Merapi Kembali Luncurkan Guguran Lava, Terjauh 1,9 Kilometer ke Arah Barat Daya

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:21 WIB
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.

SLEMAN – Gunung Merapi masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang perlu diwaspadai. Sepanjang pengamatan Kamis, 13 Agustus 2026, gunung api yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu terpantau meluncurkan guguran lava sebanyak 13 kali ke arah barat daya.

Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi periode 00.00–24.00 WIB, guguran lava tersebut mengarah ke sejumlah alur sungai yang berhulu di lereng Merapi. Jarak luncur terjauh tercatat mencapai 1.900 meter.

Beberapa sungai yang menjadi jalur guguran lava antara lain Kali Sat atau Kali Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak. Aktivitas tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa dinamika vulkanik Merapi masih berlangsung.

Secara visual, puncak Merapi sempat terlihat jelas. Namun, kondisi kemudian berubah dengan kemunculan kabut mulai dari tipis hingga tebal. Asap kawah juga masih teramati dengan tekanan lemah.

Baca Juga: Bopda Kesetaraan di Gunungkidul di 2026 Naik Rp 341 Juta tapi Belum Dicairkan

Asap berwarna putih itu memiliki intensitas tipis hingga sedang. Ketinggiannya berkisar antara 50 hingga 400 meter di atas puncak kawah.

Aktivitas kegempaan juga masih tercatat. Dalam periode pengamatan tersebut, terjadi 81 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–29 milimeter dan durasi 25,41–161,72 detik.

Selain itu, tercatat 52 kali gempa hybrid atau fase banyak. Aktivitas tersebut memiliki amplitudo 2–28 milimeter, dengan durasi 11,02–57,1 detik.

Satu kali gempa vulkanik dangkal dan satu kali gempa tektonik jauh juga terdeteksi. Rangkaian data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas di tubuh Gunung Merapi masih berlangsung.

Baca Juga: Wisuda Nasional Polbangtan dan PEPI, Cetak SDM Unggul Pertanian

Saat ini, Gunung Merapi berada pada Level III atau Siaga.

Badan Geologi melalui Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengingatkan bahwa potensi bahaya utama masih berupa guguran lava dan awanpanas guguran.

Pada sektor selatan-barat daya, potensi bahaya meliputi Sungai Boyong hingga maksimal 5 kilometer. Sementara Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng memiliki potensi bahaya hingga 7 kilometer.

Di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.

Baca Juga: Gandeng KWT dan Akademisi Bikin Green House Melon Hidroponik

Ancaman lain juga perlu diperhatikan. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak Merapi.

BPPTKG menyebut data pemantauan masih menunjukkan adanya suplai magma. Kondisi ini dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam wilayah yang telah ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya.

Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan yang masuk daerah potensi bahaya. Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap lahar dan awanpanas guguran, terutama ketika hujan turun di sekitar Merapi.

Ancaman abu vulkanik juga perlu diantisipasi karena dapat mengganggu aktivitas masyarakat maupun perjalanan di wilayah terdampak.

Baca Juga: Hemat Tenaga tapi Sepi Penumpang, Keluhan Pengemudi Becak Listrik Bantuan Presiden di Purworejo

Masyarakat di sekitar Merapi diimbau tetap mengikuti informasi resmi dari BPPTKG dan PVMBG. Perubahan aktivitas yang signifikan akan menjadi dasar untuk mengevaluasi kembali tingkat aktivitas Gunung Merapi.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG Yogyakarta
Erupsi hari ini Letusan hari ini Gunung Merapi hari ini Gunung Merapi Merapi Hari Ini