Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Merapi Kembali Gugurkan Awan Panas hingga 2 Kilometer, 19 Lava Meluncur ke Arah Barat Daya

I
Penulis: Iwa Ikhwanudin❯
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.

Advertisement

 SLEMAN – Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan dinamika yang perlu diwaspadai. Dalam periode pengamatan Rabu (12/8/2026) pukul 00.00-24.00 WIB, satu kejadian awan panas guguran tercatat meluncur hingga sekitar 2 kilometer.

Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu hingga kini masih berstatus Level III atau Siaga. Kondisi tersebut membuat masyarakat di kawasan rawan bencana diminta tetap menjauh dari zona potensi bahaya.

Berdasarkan laporan aktivitas Gunungapi MAGMA-VAR yang disusun Tri Mujiyanta, awan panas guguran tersebut tercatat memiliki amplitudo maksimum 49 milimeter dengan durasi 82,61 detik. Fenomena ini menjadi salah satu indikator penting bahwa aktivitas vulkanik Merapi masih berlangsung.

Advertisement

Secara visual, Merapi terpantau jelas. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih terlihat dengan intensitas sedang hingga tinggi. Ketinggiannya mencapai sekitar 25-650 meter di atas puncak kawah.

Aktivitas guguran lava juga masih terjadi. Sepanjang periode pengamatan, tercatat 19 kali guguran lava yang meluncur ke arah barat daya, terutama menuju kawasan Kali Sat atau Kali Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak. Jarak luncur maksimum mencapai 2 kilometer.

Advertisement

Dari sisi kegempaan, aktivitas Merapi juga cukup ramai. Selain satu awan panas guguran, tercatat 86 kali gempa guguran. Kemudian 86 gempa hybrid atau fase banyak dan 11 gempa vulkanik dangkal turut terdeteksi selama periode pengamatan.

Kondisi meteorologi di sekitar gunung juga berubah-ubah. Cuaca tercatat cerah, berawan hingga mendung dengan angin lemah yang bergerak ke arah barat. Suhu udara berada pada kisaran 14,8-26,5 derajat Celsius, sedangkan kelembapan mencapai 84,4-89,2 persen.

Data pemantauan menunjukkan suplai magma ke tubuh Gunung Merapi masih berlangsung. Kondisi tersebut berpotensi memicu kembali awan panas guguran, terutama di kawasan yang masuk dalam zona bahaya.

Potensi ancaman saat ini terutama berada di sektor selatan-barat daya. Wilayah Sungai Boyong memiliki potensi bahaya hingga 5 kilometer, sedangkan Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer. Di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.

Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di wilayah-wilayah tersebut. Ancaman juga dapat meningkat ketika hujan turun karena material vulkanik yang berada di lereng dapat terbawa menjadi lahar.

Advertisement
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG Yogyakarta
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Pemkab Purworejo Ajak Selurum Elemen untuk Mitigasi Ancaman Karhutla

Pemkab Purworejo Ajak Selurum Elemen untuk Mitigasi Ancaman Karhutla

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo mengajak seluruh komponen bersama melakukan mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

BPBD Gunungkidul Siapkan Berbagai Sumber Pendanaan Antisipasi Kekeringan Perkuat Mitigasi Kebencanaan

BPBD Gunungkidul Siapkan Berbagai Sumber Pendanaan Antisipasi Kekeringan Perkuat Mitigasi Kebencanaan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul memastikan penanganan potensi bencana kekeringan tidak hanya mengandalkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).  Pemerintah menyiapkan dukungan...

Revitalisasi 190 Candi Perwara Prambanan Dinilai Berpotensi Ganggu Wisata, Dispar DIY Siapkan Mitigasi

Revitalisasi 190 Candi Perwara Prambanan Dinilai Berpotensi Ganggu Wisata, Dispar DIY Siapkan Mitigasi

Rencana revitalisasi lebih dari 190 candi perwara di Kompleks Candi Prambanan melalui kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah India diperkirakan akan memunculkan penyesuaian pola kunjungan wisata. 

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer