Psikolog Sebut Burnout Tidak Bisa Jadi Dalih Lakukan Pencibiran, Kematangan Emosi Lebih Berpengaruh

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 21:09 WIB
Infografis: Herpri Kartun/Radar Jogja
Infografis: Herpri Kartun/Radar Jogja

SLEMAN - Kasus pencibiran pasien BPJS Kesehatan oleh dokter dan tenaga kesehatan di media sosial tengah jadi sorotan warganet. Kasus ini menimbulkan spekulasi karena sejumlah pihak menilai tindakan itu adalah  dampak dari beban pekerja kesehatan yang akhirnya membuat mereka mengalami burnout. Dengan kata lain, kelelahan berkepanjangan ini jadi dalih atas tindakan tersebut.

Psikolog Klinis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) Indria Laksmi Gamayanti menjelaskan, burnout memang lekat kaitannya dengan dampak dari beban kerja. Kondisi ini memang berpotensi meningkatkan kerentanan seseorang untuk berperilaku impulsif dan bentuknya bisa beragam.

Turunnya ambang pengendalian emosi ini bisa berpengaruh pada tindakan agresif secara verbal, fisik, dan sosial. Hanya saja tidak semua orang yang mengalami burnout serta-merta akan bertindak demikian.

Baca Juga: RSA UGM Menonaktifkan Perawat Yang Cibir Pasien BPJS, Sanksi Berat pun Menanti

"Tidak bisa begitu saja menyimpulkan unggahan itu karena seseorang mengalami burnout karena belum ada data dan pemeriksaan yang dilakukan," katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (7/8/2026).

Dia memahami bahwa pekerja layanan medis memang mendapatkan tekanan pekerjaan yang luar biasa berat dan sangat mungkin mengalami burnout. Hanya saja ketika seseorang sampai bisa melakukan ujaran kebencian semacam ini, sebenarnya lebih dipengaruhi oleh kematangan psikologis.

Hal ini adalah hasil proses panjang dari pengalaman masa kecil, pola asuh, proses pendidikan, pengalaman-pengalaman hidup yang dilalui hingga dewasa, dan proses pendidikan yang diperoleh.  "Kondisi demikian cenderung dipengaruhi oleh psikologis yang tidak matang, kira-kira begitu," katanya.

Baca Juga: Rizky Alifian Ramadhan Diterima di UI, UGM dan Belasan PT Bergengsi Luar Negeri

Menurut Gamayanti, apa pun alasan dari pelaku tindakannya tetap salah karena terlalu cepat melakukan judgement pada korban. Hanya saja dia berpesan agar warganet lain tidak membalas melakukan tidakan serupa kepada pelaku. Jika hal ini terus dilakukan maka hanya akan jadi lingkaran setan yang tak ada ujungnya.

"Memang ada kecenderungan orang-orang sekarang gampang menilai orang lain negatif dan mengucapkan yang macem-macem," katanya.

Harapannya seluruh pihak bisa meningkatkan rasa empati agar kasus serupa ke depannya tidak terulang kembali. Agar tidak ada lagi korban-korban baru ujaran kebencian, khususnya di media sosial.

Baca Juga: Pembangunan Tahap Pertama Taman Budaya Bantul Ditarget Rampung Awal Desember

Peristiwa ini sendiri bermula dari akun Threads @yurizaltrich sebagai pasien BPJS yang mengeluhkan belum dapat kamar rumah sakit meski sudah menunggu delapan jam. Unggahan ini mendapat banyak tanggapan dari warganet dan sebagian justru mencibir keluhan tersebut. Ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki otak, memintanya pindah ke ruang jenazah, menyarankannya potong nadi, hingga menyuruhnya mengalami serangan jantung saja. Beberapa hari kemudian, seorang warganet yang mengaku kerabat korban mengabarkan bahwa pemilik utas tersebut sudah meninggal dunia. Usai ditelusuri ternyata banyak dari mereka yang memberi komentar jahat adalah dokter dan tenaga kesehatan. (del/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
yurizaltrich Laksmi Gamayanti universitas gadjah mada BPJS burnout