SLEMAN — Langit di atas Gunung Merapi sepanjang Selasa (4/8/2026) berganti dari cerah ke mendung, namun di balik perubahan cuaca itu, aktivitas vulkanik gunung berapi paling aktif di Indonesia ini justru menunjukkan dinamika yang tak pernah padam.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan, sepanjang periode pengamatan 24 jam, Merapi yang berdiri megah setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut itu meluncurkan material lava pijar sebanyak 14 kali menuju aliran Kali Boyong, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.
Dari puncak kawah, teramati asap berwarna putih dengan intensitas tipis membubung setinggi 25 meter. Tekanan gas yang keluar tergolong lemah, namun cukup menjadi penanda bahwa perut gunung masih "bernapas". Kondisi visual gunung sendiri bervariasi—kadang tampak jelas, kadang tertutup kabut tingkat 0 hingga III.
Suhu udara di sekitar kawasan Merapi berkisar antara 17,3 hingga 27 derajat Celcius, dengan kelembaban yang sangat tinggi mencapai 98,8 persen—menciptakan suasana lembab yang khas di lereng gunung. Angin bertiup tenang ke arah barat, membawa sisa-sisa abu dan uap menuju sisi lain perbukitan.
Baca Juga: BPDP BLU Kemenkeu dan Politeknik LPP Gelar Youthpreuneurship Planters Bootcamp, Cetak Wirausaha Muda
Meski secara visual tampak tenang, instrumen seismik merekam aktivitas yang jauh dari kata sunyi. Sepanjang hari, tercatat 102 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 hingga 65 mm dan durasi mencapai 203,5 detik.
Yang lebih mengkhawatirkan, BPPTKG juga mencatat 80 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak—jenis gempa yang mengindikasikan pergerakan fluida dan tekanan magma di dalam dapur gunung. Amplitudo gempa ini mencapai 46 mm dengan durasi hingga 48,57 detik. Selain itu, 21 kali gempa Vulkanik Dangkal turut terekam, dengan amplitudo terbesar mencapai 275 mm.
"Dua jenis gempa terakhir ini menjadi sinyal penting bahwa pasokan magma dari dalam perut gunung masih aktif," demikian dikutip dari laporan petugas pengamat. Pasokan magma yang terus berlangsung ini berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran (APG) sewaktu-waktu.
Hingga berita ini diturunkan, BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III (Siaga). Status ini menandakan aktivitas vulkanik masih di atas normal dan dapat meningkat sewaktu-waktu.
Baca Juga: Berlangsung Hari Ini, Berikut Jadwal Final dan Perebutan Juara Tiga Piala Presiden 2026
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di zona potensi bahaya. Ancaman guguran lava dan awan panas mengintai di sektor selatan hingga barat daya, meliputi aliran Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya membayangi aliran Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol 5 kilometer.
Baca Juga: Mohamed Salah Diperkenalkan, Trabzonspor Undang Suporter Saksikan Penandatanganan Kontrak
Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
Masyarakat juga diingatkan untuk mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan turun di sekitar Gunung Merapi.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG Yogyakarta