Gelar Seni Budaya sebagai Magnet Wisata Pasar Tradisional

Yogi Isti Pujiaji • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 07:49 WIB
Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Sleman Dr H. Syukron Arif Muttaqin SE MAP
Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Sleman Dr H. Syukron Arif Muttaqin SE MAP

 

 

SLEMAN - Suasana pasar tradisional tak lagi seramai dulu. Meski bangunan sudah direhab modern seolah tak mampu menjadi daya ungkit untuk mendatangkan konsumen. 

Bahkan tak sedikit pedagang masih enggan menghuni kios dan los baru. Sehingga menambah lengang suasana pasar tradisional. Walaupun secara visual kini tampak lebih bersih dan jauh dari kesan kumuh.

Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Sleman Dr H. Syukron Arif Muttaqin SE MAP menilai, pemasaran terhadap komoditas maupun pasar tradisional itu sendiri masih kurang masif.

Baca Juga: 942 Orang Daftar Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren Pemprov Jateng, 15 Orang Lolos Kuliah Luar Negeri

 Menurutnya, pengelola pasar harus lebih kreatif dan inovatif untuk menggaet konsumen.

"Tapi lebih penting lagi mendatangkan pedagang agar kios dan los pasar penuh dulu.

Sehingga komoditasnya lebih beragam," tutur politikus Partai Kebangkitan Bangsa itu.

Ketika pasar sudah penuh pedagang tapi dagangannya tidak laris, maka dibutuhkan terobosan baru. Untuk memantik minat masyarakat agar berbelanja di pasar tradisional.

Syukron mengatakan, pasar tradisional bisa disulap menjadi destinasi wisata alternatif. Misalnya dengan menggelar agenda budaya secara rutin.

Baca Juga: Peringati Asadha dengan Puja Yatra, Kirab Relik Buddha Diikuti Belasan Ribu Umat

 Atau menggencarkan promo dan diskon untuk komoditas tertentu. "Intinya, bagaimana mengemas pasar tradisional sehingga memiliki daya magnet bagi konsumen," tutur tokoh asal Mlangi, Gamping, yang juga pengamat seni tradisi.

Mengacu pada pasar-pasar tradisional dengan bangunan modern, seperti Pasar Sleman, Pasar Prambanan, hingga Pasar Godean, Syukron melihat masih banyak ruang kosong yang belum termanfaatkan. 

Termasuk area luas di pelataran depan pasar.

Area terbuka itu bisa menjadi arena pentas seni tradisional seperti jathilan, ndolalak, hingga panggung kesenian kekinian yang melibatkan anak-anak muda. 

Baca Juga: Juli-Agustus Jadi Puncak Wisman ke Jogja, Pemkot Optimistis Target 350 Ribu Kunjungan Tercapai

Konsep itu sekaligus bisa menjadi sarana kampanye dan pengenalan pasar tradisional bagi generasi muda. "Jadi bukan hanya mal. Di pasar tradisional itu mau belanja apa saja juga ada. 

Bahkan harganya lebih murah dan bisa tawar-menawar," ungkap anggota dewan Sleman satu-satunya peraih gelar doktor itu.

Syukron bahkan berharap, pasar-pasar tradisional di Kabupaten Sleman bisa menjadi destinasi one stop service bagi wisatawan. Dengan menyajikan aneka kebutuhan rumah tangga sehari-hari hingga oleh-oleh kekinian. 

Serta produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) khas Bumi Sembada.

Baca Juga: Makin Praktis! BKAD Gunungkidul Hadirkan Senapati, Bayar Pajak Daerah Cukup Pakai QRIS & VA

"Maksimalkan space di luar pasar. Manfaatkan pula teknologi informasi untuk menjaring konsumen sekaligus memasarkan produk pasar tradisional," katanya.

Syukron menegaskan, pengelolaan pasar tradisional era sekarang harus modern dan profesional. Namun tetap mempertahankan unsur tradisionalnya. 

Misal saat transaksi. Meski bisa tawar-menawar harga, pembayarannya bisa pakai QRIS atau kartu debit/kredit. Juga fasilitas pembayaran lainnya.

"Sekarang itu eranya media sosial. Nah, pengelola pasar pun harus melek teknologi. Geber info acaranya lewat Instagram, Facebook, TikTok, dan lainnya," sarannya. (yog)

 

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
pasar godean DPRD Kabupaten Sleman Syukron Arif Muttaqin Bumi Sembada UMKM