Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ramai Ajakan Naik Gunung Merapi, BBPTKG Tegaskan Tingginya Potensi Erupsi Eksplosif Mendadak

Delima Purnamasari • Rabu, 1 Juli 2026 | 13:03 WIB
STATUS SIAGA: Luncuran awan panas Gunung Merapi Selasa (9/6). (Dokumentasi BPPTKG)
STATUS SIAGA: Luncuran awan panas Gunung Merapi Selasa (9/6). (Dokumentasi BPPTKG)

SLEMAN - Ramai dibahas di media sosial soal pembukaan jalur pendakian Gunung Merapi oleh sejumlah kelompok masyarakat. Bahkan ada sejumlah akun telah mengunggah konten pendakian yang dilakukan baru-baru ini.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menegaskan bahwa situasi Gunung Merapi masih belum aman hingga kini. 

Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menegaskan, aktivitas pendakian di Gunung Merapi saat ini sangat tidak disarankan demi keselamatan. Apabila terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik dapat terlempar hingga mencapai radius tiga kilometer dari puncak. Jangkauan ini mencakup area yang biasanya menjadi jalur maupun batas akhir pendakian.

 Sementara jalur pendakian Gunung Merapi via New Selo meliputi pintu gerbang yang hanya berjarak 2,3 kilometer; Pos I berjarak 1,64 kilometer; Pos II berjarak 1,25 kilometer; dan Pasar Bubrah hanya berjarak 0,7 kilometer.

"Dengan kondisi ini sangat mengancam nyawa siapa pun yang berada di zona tersebut," tegasnya dikonfirmasi, Rabu (1/7). 

Baca Juga: Jarell Quansah dan Reece James Absen dari Sesi Latihan Terakhir Inggris Jelang Lawan RD Kongo, Thomas Tuchel Siapkan Pengganti

Menurutnya, masyarakat dan para pendaki juga perlu memahami dinamika aktivitas gunung saat ini. Merapi memang sedang berada dalam fase erupsi efusif yang ditandai dengan keluarnya magma ke permukaan secara perlahan. Namun, justru dalam kondisi inilah potensi terjadinya erupsi eksplosif sewaktu-waktu tetap tinggi. 

"Bahaya ini dapat terpicu apabila jalan keluar magma mengalami sumbatan secara tiba-tiba," ujarnya. 

Sumbatan itu dia sebut akan menyebabkan akumulasi tekanan gas yang sangat kuat di dalam kawah. Pada akhirnya dapat melepaskan energi berupa erupsi eksplosif secara mendadak.

Agus menyebut, kewaspadaan ini bukanlah tanpa alasan, melainkan didasarkan pada data historis aktivitas vulkanik Merapi itu sendiri. Dalam catatan tiga abad terakhir, Gunung Merapi pernah menunjukkan lima tipe erupsi yang berbeda. Pada faktanya tipe erupsi yang bersifat eksplosif adalah yang paling sering terjadi. Bahkan, pasca-erupsi 2010, telah tercatat 32 kali erupsi eksplosif yang didominasi oleh erupsi freatik.

"Selama potensi ancaman ini masih tinggi, penutupan aktivitas pendakian di daerah potensi bahaya merupakan langkah mitigasi utama yang harus dipatuhi," tambahnya. 

Pantauan laporan aktivitas hari ini sendiri pada periode pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 terjadi guguran lava sebanyak tujuh kali ke arah barat daya. Tepatnya di Kali Putih dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter.

Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya. Meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer lalu Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh masing-masing maksimal tujuh kilometer.

Baca Juga: Akhir Era Delapan Tahun: LeBron James Resmi Tinggalkan Lakers, Tolak Pensiun demi Duet dengan Stephen Curry?

Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal tiga kilometer dan Sungai Gendol lima kilometer. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak.

"Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi," ujarnya. (del)

Editor : Bahana.
#Gunung Merapi #Merapi