SLEMAN - Aliansi Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menolak satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) masuk kampusnya. Ini menyusul pernyataan rektor yang siap terlibat dalam program makan bergizi gratis (MBG) dengan membuka dapur SPPG.
Penolakan ini dinyatakan lewat pemasangan spanduk protes di gerbang masuk kampus yang bertuliskan,"Rektor kampus pendidikan, tidak paham pendidikan!!! Kampus dijadikan tempat memasak makanan bukan memasak pikiran. Kami mahasiswa UNY menolak SPPG".
Koordinator Aliansi Mahasiswa UNY Dani Egison mengatakan, program pemerintah pusat ini bermasalah dan memiliki banyak celah untuk terjadinya korupsi. Spanduk ini dipasang pada Rabu (22/6/2026) lalu.
Baca Juga: Penanganan Korban Little Aresha di Bantul Rampung, Dapat Pendampingan Psikologis dan Psikososial
Sebelumnya, spanduk penolakan itu rencananya dipasang di gedung rektorat. Karena dilarang, beralih ke Patung Kembara, pun dilarang juga. Akhirnya mahasiswa memasangnya di gerbang masuk kampus.
Dani menyebut pemasangan ini memang hanya sebentar saja, lalu akhirnya diturunkan. "MBG ini adalah program problematik dan tidak transparan," katanya dihubungi, Kamis (25/6/2026).
Meski, secara praktiknya SPPG ini belum didirikan oleh UNY. Pemasangan spanduk ini sebagai langkah awal mahasiswa dalam merespons pernyataan rektor sebelumnya. Lewat aksi sederhana ini, dia berharap kampus memiliki sikap yang tegas untuk menolak program MBG.
"Harapannya UNY bisa jadi tempat untuk mengkritisi, bukan malah ikut mendorong kebijakan problematik," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Aliansi Mahasiswa UNY juga turut menyoroti isu nasional lain, seperti Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Danantara yang diklaim juga problematik.
Termasuk kebijakan internal soal pengubahan sistem masuk keluar kampus satu arah yang dinilai justru membuat macet.
"Kebijakan nasional dan kampus sama-sama terburu-buru lalu menimbulkan masalah. Evaluasi baru ada di tengah-tengah," jelasnya.
Sementara itu, Rektor UNY Sumaryanto menjelaskan, sampai saat ini di UNY belum ada SPPG. Hanya, saat ditanyakan lebih lanjut soal apakah betul bahwa kampusnya siap mengelola jika ada kesempatan, dia memberi jawaban normatif.
"Kami pelajari dulu," jawabnya melalui pesan singkat. (del/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita