Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BRIN Turun Gunung Ikut Selidiki Rumah Api Seyegan, Ragu dengan Penyebab Fermentasi Limbah Pemotongan Ayam

Delima Purnamasari • Senin, 8 Juni 2026 | 14:47 WIB
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Kelompok Teknologi Kebencanaan dan Energi Perairan Darat, BRIN, Hari Soekarno - Delima Purnamasari/Radar Jogja
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Kelompok Teknologi Kebencanaan dan Energi Perairan Darat, BRIN, Hari Soekarno - Delima Purnamasari/Radar Jogja

SLEMAN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ikut turut tangan dalam menyelidiki penyebab kebakaran di Mriyan X RT 5 RW 20 Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman.

Sejak terjadi pada Jumat (22/5) tercatat sudah 113 api yang muncul hingga kini. Api ini membakar berbagai perabotan rumah, seperti mukena, sofa, hingga lemari. 

Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Kelompok Teknologi Kebencanaan dan Energi Perairan Darat, BRIN, Hari Soekarno menjelaskan, kedatangan timnya hari ini adalah untuk melakukan survei awal.

Sekaligus melakukan diskusi bersama peneliti sebelumnya. Untuk mengetahui penelitian apa saja yang sudah dilakukan dan BRIN akan melengkapi. Hari mengaku, yang jadi pertanyaannya adalah sumber pemantik yang menyebabkan gas tersebut menyala.

Dugaan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) hal ini disebabkan oleh gas fosfin yang bersumber dari tulang dan bulu binatang hasil usaha pemotongan ayam yang menempel dengan rumah. Hanya saja dia meragukan hal ini. 

"Kalau melihat instalasi limbahnya, seandainya terbentuk gas fosfin pun, menurut saya sudah akan lepas ke atmosfer," katanya ditemui di sela-sela peninjauan di rumah api Seyegan, Senin (8/6). 

Baca Juga: Minyak Goreng di Kota Jogja Langka, Harga Masih Stabil Tinggi

Di sisi lain, masih banyak kemungkinan terkait jenis gas piroforik atau gas yang mudah terbakar pada suhu ruangan. Hari juga ragu jika penyebabnya adalah gas hasil dekomposisi organik limbah pemotongan ayam.

Kalau pun limbah tersebut menghasilkan gas maka sudah dinetralkan oleh udara atmosfer. Dia sebut juga penting untuk melihat hasil alat georadar untuk melihat di bawah permukaan rumah jika ditemukan adanya sesar atau rekahan.

Baru nanti bisa dilakukan penelusuran jenis gas yang melewatinya. Jika memang penyebabnya adalah gas alam tinggal dipastikan apakah mengandung hidrogen dan terbakar pada suhu ruang. 

"Kalau itu gas alam metana tetap harus ada pemantik. Tidak bisa di suhu ruangan langsung terbakar sendiri. Ini yang masih jadi tanda tanya," ujarnya. 

Nantinya BRIN akan melakukan pengambilan sampel gas dari ruangan yang kerap terbakar. Lalu dilakukan analisa gas menggunakan alat gas kromatografi. Tantangannya adalah konsentrasi gas yang rendah sehingga menyulitkan untuk pengambilan sampelnya. 

"Kami punya alat di Jakarta tapi mungkin sulit membawa sampel ke sana. Kami akan diskusikan dahulu, tetapi untuk tahu gasnya harus dilakukan sampling," katanya. 

Baca Juga: Menteri HAM Usul Jabatan Utama Polri Bisa Diisi Sipil, Kapolri dan Istana Buka Suara

Menurut Hari, dia belum pernah menemukan fenomena semacam ini. Biasanya yang banyak ditemukan adalah gas rawa muncul di alam terbuka. Sementara ini gasnya bisa langsung terbakar di suhu ruangan. Persoalan ini yang dia sebut krusial untuk bisa dijawab. (del)

Editor : Bahana.
#misteri rumah terbakar di seyegan #rumah api seyegan #pemotongan ayam #Sleman