SLEMAN - Titik api masih terus muncul di rumah warga Seyegan bernama Mutfiana.
Sejak kali pertama terjadi pada Jumat (22/5/2026) hingga Minggu (7/6/2026) ini tercatat sudah 111 titik api yang muncul.
Kondisi ini menyebabkan banyak barang sudah terbakar dan usaha pemotongan ayam yang menyatu dengan rumah berhenti.
"Untuk hari ini (Minggu, Red) sudah tiga kali terbakar. Di ruang tengah dan belakang," katanya ditemui di kediamannya, Minggu (7/6/2026).
Dia bercerita api ini juga terus melebar ke utara di dua rumah tetangganya. Objek yang terbakar berupa jilbab, handuk, dan karung.
Baca Juga: Kini tanpa Perlu lewat Asrama, Pemulangan Jemaah Haji Sleman Terus Berproses
Fenomena tak biasa ini diakui memang membuat banyak orang berkunjung ke rumahnya. Mulai dari saudara, kenalan, maupun masyarakat sekitar. Rumah Mutfiana pun bak tempat wisata dadakan.
Pantauan Radar Jogja di lokasi memang terlihat masih banyak orang datang melihat, berfoto, dan memasuki rumahnya.
Di depan rumahnya yang penuh dengan bekas api, bahkan disediakan sofa dan meja lengkap dengan camilan dan kopi.
Akomodasi ini dia sediakan secara mandiri dibantu oleh warga sekitar. Pemerintah juga turut mensuplai air galon.
"Ini karena banyak tamu pribadi. Sekaligus untuk teman-teman relawan yang pasti ikut menjaga," katanya.
Baca Juga: TPS3R dan Bank Sampah Didorong Mengolah Limbah Sisa MBG
Mutfiana mengaku tak keberatan dengan banyaknya orang yang datang ke rumahnya. Hal terpenting adalah tidak mengganggu kenyamanan keluarganya atau membuat ribut lingkungan sekitar.
"Memang banyak yang kepo, lalu live streaming di sini," katanya.
Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Sleman Makwan menjelaskan, fokus utama dalam penanganan kebakaran ini menjalankan rekomendasi dari para tim akademisi.
Mulai dari membuka sirkulasi udara agar gas di dalam rumah bisa keluar. Lalu mengeluarkan barang-barang yang mudah terbakar.
Termasuk penjenuhan cairan basa lewat air kapur yang dikatakan oleh tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menekan bakteri Clostridium yang berperan dalam menghasilkan gas hidrogen.
"Kami sudah memberi respons darurat untuk memastikan keluarga aman. Termasuk dukungan logistik dan isi ulang APAR," katanya.
Baca Juga: Sambut Reaktivasi Bandara Adisutjipto, Pemkab Sleman Siapkan Wisata Gastronomi dan Wellness
Dia juga berharap agar hasil observasi antar-peneliti bisa saling disinkronkan dan bisa dianalisis bersama untuk benar-benar menemukan penyebab titik api.
Agar nantinya kesimpulan dan penanganan yang dilakukan tidak saling tumpang-tindih.
Apabila nanti ditemukan adanya potensi gas, dia harapkan juga bisa dimanfaatkan bagi warga sekitar. Untuk nantinya juga bisa menambah potensi pendapat daerah.
Komandan Detasemen Gegana Satbrimob Polda DIJ Kompol Edi Efiyanto menyebutkan, pada awal kemunculan api memang yang dicurigai jadi penyebabnya adalah gas metana.
Saat itu timnya datang pada Minggu (24/5/2026) dan saat masuk ke ruang kamar depan tercium aroma kurang sedap yang menyebabkan mual.
Baca Juga: Pria Nekat Menceburkan Diri ke Sungai Progo Ditemukan dalam Keadaan Meninggal
"Kami telusuri asalnya dan karena kami lihat api keluar dari pipa jadi dimungkinkan dari septic tank depan," katanya.
Adanya dugaan itu membuat timnya menurunkan alat deteksi gas dan diukur di area septic tank.
Dia sebut septic tank ini telah tertutup tanpa adanya ventilasi selama 16 tahun dan saat itu memang terdeteksi adanya gas metana.
Gas ini dengan kondisi tertentu bisa terbakar. "Jadi kami sarankan untuk membuka jendela untuk ventitasi. Barang yang mudah terbakar juga dipindahkan," katanya.
Hanya saja usai septic tank dibuka dan dilakukan pengurasan api tetap muncul. Saat dilakukan pengukuran kembali memang masih terdeteksi gas metana, tetapi sangat cepat angkanya turun kembali.
Persoalannya hingga kini, tidak diketahui lokasi di titik mana gas ini akan muncul dan menimbulkan titik api. (del/laz)
Editor : Herpri Kartun