SLEMAN - Adanya fenomena tak biasa di rumah milik warga Seyegan, Sleman membuat para ahli dari berbagai latar belakang turut turun tangan. Termasuk dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).
Ketua Tim Mitigasi Bencana Gunung Merapi BPPTKG, Andika Bayu Aji menjelaskan, timnya terjun langsung untuk menindaklanjuti adanya hipotesis adanya dugaan gas metana. Saat itu mereka membawa alat sensor gas yang prinsipnya adalah alat keamanan.
Jadi, ketika ada konsentrasi tinggi yang berbahaya maka alat tersebut akan berbunyi.
Hal ini karena untuk bisa menimbulkan titik api, harus ada konsentrasi yang memenuhi dari gas tersebut. Gas metana dapat terbakar dengan konsentrasi 5 sampai 15 persen LEL. Sementara kadar metana di dalam rumah ditemukan hanya 0 atau 1 persen.
"Tertinggi justru ada di luar rumah sebesar 4 persen LEL, tetapi itu belum masuk kadar terbakar," katanya ditemui di Kapanewon Seyegan, Kamis (4/6/2026).
Persoalannya, untuk deteksi gas hidrogen pihaknya tidak memiliki alat detektor sehingga Tim BPPTKG melakukan pengambilan sampel gas lewat tabung. Untuk saat ini telah dibawa ke laboratorium dan besok sudah bisa dilihat konsentrasinya.
Baca Juga: FPTI DIY Susun Kekuatan Menuju Kejurnas, Gelar Kejurda Panjat Tebing DIJ 2026 di Mandal Krida
Menariknya, memang rentang terbakarnya gas hidrogen ini cukup lebar, yakni 4 hingga 78 persen ppm sehingga lebih mudah terbakar dibanding metana.
Andika turut menegaskan, bahwa konsentrasi yang tinggi tidak serta-merta menyebabkan api bisa muncul karena harus ada pemantik. Gas tidak bisa terbakar begitu saja apalagi metana maupun hidrogen titik bakarnya hingga 500 derajat celsius.
BBPTKG telah melakukan pemantauan suhu lewat drone dan yang terbaca maksimal hanya 32 derajat celsius. Opsi yang memungkinkan dia sebut pemantiknya adalah listrik statis. Asumsi ini dikuatkan bahwa barang-barang elektrik di rumah tersebut mudah rusak, seperti CCTV, komputer, dan televisi.
Baca Juga: BPBD Bantul Catat Korsleting Listrik Jadi Penyebab Kebakaran Terbanyak di Bantul, Ini Imbauannya
"Jadi perlu dicek sumber listrik statis dekat rumah itu," tegasnya.
Sementara soal dugaan gas fosfin yang jadi pemicu dia sebut memang bisa jadi dan masuk akal. Hal ini karena temperatur terbakar gas ini cukup 38 derajat. Rentang konsentrasi di udara untuk bisa terbakar juga lebih panjang antara 1 sampai 98 persen. (del)
Editor : Winda Atika Ira Puspita