SLEMAN - Pementasan seni lewat seperangkat alat masak lengkap dengan kompor dan gas melon sembari menguleg sambal hanyalah satu banding berbagai keseruan lain di Studio Kalahan Rabu (15/4). Sebab lewat perayaan seni bertajuk Sehari Boleh Gila, siapa pun bebas berekspresi selama 12 jam.
Pemandangan nyeleneh langsung tersaji saat memasuki studio yang dibuat Heri Dono di Mejing Kidul, Ambarketawang, Gamping, Sleman. Sebab orang-orang sibuk dengan masing-masing kegiatannya yang bisa disebut tidak biasa.
Baca Juga: ASN Bermedsos, DPRD Kulon Progo Ingatkan Jangan Lupa Tugas Utama
Contohnya menari membawa tengkorak. Di sudut lain ada yang memainkan alat musik Jawa lengkap dengan surjan. Bahkan ada yang bergoyang ala dangdut, tapi menggunakan pakaian peri.
Namun, waktu mereka terbatas. Mereka hanya boleh melakukan hal-hal yang tidak wajar itu selama 12 jam. Tepat setelah kegiatan bertema spiritual anarchy ini selesai, para seniman ini akan kembali menjalani kehidupan yang normal.
Koordinator Sehari Boleh Gila, Lejar Daniartana Hukubun menyebut, seseorang sudah berupaya hidup normal selama setahun menjalani kehidupan. Jadi perlu ada satu hari yang berbeda dengan mengolah kegilaan secara kreatif.
Baca Juga: Penerima Manfaat MBG Bakal Digeser ke Anak Kurang Gizi, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo: Kami Dukung!
"Kreativitasnya itu terinspirasi dari impian saat masih kecil. Waktu kecil manusia itu enggak takut bermimpi," katanya ditemui di sela-sela acara.
Saat kecil bisa jadi seseorang ingin jadi dokter, astronaut, tentara, bahkan masinis. Namun, bisa jadi saat sudah dewasa mimpi itu tidak tercapai dan akhirnya seseorang memiliki profesi yang berbeda. Lejar sendiri meski sebenarnya bekerja sebagai pengajar, memilih menggunakan pakaian hansip.
"Tapi di sehari ini semua boleh gila. Boleh mengambil mimpi-mimpi di masa lalu untuk diungkapkan secara kreatif," tambahnya.
Dia menerangkan, peserta acara ini ada dari berbagai kalangan. Utamanya berasal dari mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Lalu dimeriahkan oleh berbagai seniman dari Jogja dan masyarakat umum yang memang memiliki minat di bidang seni. Semuanya tampil untuk menunjukkan kebolehannya.
Baca Juga: Jelang Iduladha, Ahmad Luthfi Minta Layanan Kesehatan Hewan Keliling Diintensifkan
Dosen Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain (STSRD) Visi Yogyakarta ini menyebut, puncak acara dalam perayaan ini memang menari bersama-sama. Sebagai salah satu bentuk seni yang menggambarkan aspek kegembiraan. Orang-orang bisa langsung melihat dan ikut hanyut dalam suasana yang meriah.
"Pokoknya nari-nari dan nyanyi-nyanyi bebas. Jadi sekalian menghibur," ujarnya.
Harapannya para peserta jadi bisa mengingat cita-cita mereka di masa lampau. Lalu bisa menjadikannya sebagai spirit bagi impian saat ini maupun yang akan datang.
Sementara itu, salah satu peserta dalam Sehari Boleh Gila ini adalah Wahono Simbah. Selama kegiatan berlangsung dia menyambangi setiap orang yang datang dengan memukul-mukul wajan. Pakaiannya necis dengan jas, tetapi menggunakan topeng singa sembari membawa pecut. Baginya, ini adalah interpretasi dari antropomorfisme, yakni bersatunya manusia dengan hewan.
"Mimpi saya akan memenggal kepalaku yang berwatak hewan ini. Itulah kegilaanku hari ini," katanya.
Kostumnya hari ini juga merupakan bentuk kritik sosial pada para penguasa yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Lantaran hanya memikirkan keserakahan dan membuat gila satu negara. (cin/eno)