Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Stunting di Bantul Turun 203 Kasus, Pendampingan Balita Terus Digencarkan

C
Penulis: Cintia Yuliani❯
Kepala Dinkes Kabupaten Bantul Agus Tri Widiyantara. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
Kepala Dinkes Kabupaten Bantul Agus Tri Widiyantara. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)

Advertisement

BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mencatat jumlah balita stunting turun 203 kasus pada Februari 2026. Sebelumnya pada 2025, jumlah kasus stunting berada di angka 3.673.

Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta mengatakan, penurunan tersebut merupakan hasil dari berbagai upaya yang terus dilakukan pemkab melalui Dinkes Bantul. Salah satunya melakukan pendampingan dan pemeriksaan balita stunting serta gizi buruk oleh dokter spesialis di 27 puskesmas. 

Advertisement

Selain itu, pihaknya juga melakukan pemantauan dan pendataan sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Kemudian dilanjutkan sampai usia lima tahun untuk mencegah stunting. 

"Kita dorong terus, kemarin survei kita keluar di bulan Februari ini alhamdulillah menurun," katanya.

Kepala Seksi Gizi, Kesehatan Keluarga, dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kabupaten Bantul Siti Marlina menambahkan, penurunan stunting juga didukung penguatan konvergensi lintas sektor dalam penanggulangan stunting dan gizi buruk. 

Dinkes juga melakukan monitoring dan evaluasi program gizi, pemantauan pemberian makanan tambahan (PMT) lokal, serta pemberian susu pangan olahan untuk keperluan medis khusus (PKMK). "Kita juga memanfaatan aplikasi Sipenting untuk pencatatan dan pelaporan dari Posyandu," katanya.

Selain itu, intervensi juga menyasar remaja melalui skrining anemia bagi siswa kelas tujuh dan sepuluh turut dilakukan. Kemuidan pemberian tablet tambah darah setiap satu minggu sekali, skrining calon pengantin, serta intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan. 

Diketahui, jumlah balita stunting di Bantul dalam tiga tahun terakhir mengalami peningkatan. Pada 2023 tercatat sebanyak 2.863 kasus. Meningkat menjadi 3.417 pada 2024 dan kembali naik menjadi 3.673 pada 2025. Karena itu, penurunan menjadi 3.470 kasus pada Februari 2026 menunjukkan adanya perbaikan, meski belum signifikan.

"Karena ada beberapa tantangan menurunkan stunting, di antaranya peningkatan prevalensi bayi BBLR (berat badan lahir rendah) dan PBLR (panjang badan lahir rendah), mobilitas tinggi sehingga partisipasi ke Posyandu rendah," jelasnya.

 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Masih di Atas Ambang Batas Nasional, Kabupaten Magelang Gencarkan Strategi Penanganan Stunting dan TB

Masih di Atas Ambang Batas Nasional, Kabupaten Magelang Gencarkan Strategi Penanganan Stunting dan TB

Dinkes Kabupaten Magelang saat memberikan sosialisasi cegah stunting dan TB, Jumat (10/7).

Edukasi Cegah Stunting dan Sampaikan Pesan Kamtibmas, Bhabinkamtibmas Ngestiharjo Kulon Progo Hadiri Posyandu di Turip

Edukasi Cegah Stunting dan Sampaikan Pesan Kamtibmas, Bhabinkamtibmas Ngestiharjo Kulon Progo Hadiri Posyandu di Turip

Bhabinkamtibmas Kalurahan Ngestiharjo, Wates, Aipda Arif Fahrudin menghadiri sekaligus memberikan dukungan pada kegiatan Posyandu Ibu dan Balita Dahlia 1 di Padukuhan Turip, Kalurahan Ngestiharjo, Wates, Kulon Progo, Se

Peringati Hadeging Ke-214 Pakualaman, Balita di Girimulyo Kulon Progo Terima Bantuan Cegah Stunting

Peringati Hadeging Ke-214 Pakualaman, Balita di Girimulyo Kulon Progo Terima Bantuan Cegah Stunting

Memperingati Hadeging ke-214, Pura Pakualaman menggelar distribusi bantuan di Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Girimulyo. Paket bantuan itu menyasar ratusan balita risiko stunting.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer