SLEMAN – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih menunjukkan intensitas tinggi. Berdasarkan laporan terbaru Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) periode pengamatan Rabu, 17 Desember 2025, tercatat adanya rentetan guguran lava dan aktivitas kegempaan yang signifikan.
Luncuran Lava dan Kondisi Visual
Sepanjang hari Rabu (00:00-24:00 WIB), petugas pengamat gunung api mencatat telah terjadi 14 kali guguran lava. Material vulkanik tersebut meluncur ke arah barat daya (Kali Krasak dan Kali Sat/Putih) dengan jarak luncur maksimal mencapai 2.000 meter (2 km).
Secara visual, gunung sempat tertutup kabut level 0-III, sehingga asap kawah tidak teramati dengan jelas. Kondisi cuaca di sekitar puncak dilaporkan berawan dan mendung dengan suhu udara berkisar antara 18.3-25.7 °C.
Kegempaan Masih Tinggi
Data kegempaan menunjukkan bahwa suplai magma di perut Merapi masih terus berlangsung. Hal ini dibuktikan dengan tingginya jumlah gempa yang terekam:
Gempa Guguran: Terjadi sebanyak 87 kali dengan durasi hingga 197 detik.
Gempa Hybrid/Fase Banyak: Terjadi sebanyak 74 kali, yang mengindikasikan adanya pertumbuhan kubah lava atau pergerakan magma ke permukaan.
Status Siaga (Level III) dan Potensi Bahaya
Saat ini, Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga). BPPTKG memperingatkan masyarakat mengenai potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas pada beberapa sektor:
Sektor Selatan-Barat Daya: Sungai Boyong (max 5 km), serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (max 7 km).
Sektor Tenggara: Sungai Woro (max 3 km) dan Sungai Gendol (max 5 km).
Lontaran Material: Jika terjadi letusan eksplosif, material vulkanik dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Rekomendasi untuk Masyarakat
Penyusun laporan BPPTKG, Erwin Widyon, menghimbau agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya.
"Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi. Selain itu, antisipasi gangguan abu vulkanik juga perlu dipersiapkan," tulis laporan resmi tersebut.
Pemerintah daerah di Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memantau perkembangan aktivitas gunung api paling aktif di Indonesia ini. (iwa)
Sumber Data: MAGMA-VAR (KESDM, Badan Geologi, PVMBG - BPPTKG)
Editor : Iwa Ikhwanudin