SLEMAN - Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sleman menyelenggarakan Seminar Pencegahan Ekstremisme, Radikalisme, dan Terorisme Rabu (26/11). Kolaborasi dengan Satgaswil Densus 88 Anti Teror DIY ini fokus pada lingkungan pendidikan. Ada 70 kepala sekolah SMP/MTs dan SMA/SMK/MA negeri yang jadi sasarannya.
Kegiatan ini penting lantaran Densus 88 Anti-Teror menyoroti perkembangan potensi radikalisme di Indonesia. Pada 2023 tercatat Indeks Potensi Radikalisme nasional pada 2023 yang mencapai 11,7 persen. Dari 110 anak usia 10 hingga 18 tahun di 23 provinsi juga dicurigai telah direkrut oleh jaringan terorisme melalui media sosial dan platform permainan daring. Faktor-faktor kerentanan, seperti ketidakharmonisan keluarga, perundungan, dan pencarian identitas diri diidentifikasi sebagai celah yang dimanfaatkan kelompok radikal.
Baca Juga: Bansos Dikurangi, Mamin Rapat Bupati dan DPRD Dibiarkan
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sleman Agung Armawanta menjelaskan, Hari Guru Nasional harus jadi momentum untuk meningkatkan peran strategis pendidik. Kepala sekolah diharap tidak memandang isu radikalisme sebagai sesuatu yang jauh. Apalagi, ada peningkatan fenomena ekstrimisme di ruang digital.
"Ini adalah tantangan nyata memerlukan kewaspadaan dan sinergi. Harapannya sekolah bisa memperkuat jejaring dalam upaya pencegahan,” ujar Agung dalam sambutannya.
Baca Juga: Prediksi Olympiacos vs Real Madrid Liga Champions Kamis 27 November Kick Off 03.00, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?
Sementara itu, Dosen Universitas Gadjah Mada Diasma Sandi Swandaru selaku pemateri mengatakan, pentingnya nilai-nilai kebangsaan dalam memperkuat ketahanan ideologis generasi muda. Derasnya arus globalisasi menuntut penguatan pendidikan karakter, toleransi, dan pemahaman lintas budaya. "Nilai-nilai kebangsaan ditawarkan sebagai modal utama dalam membangun daya tangkal ideologis di lingkungan sekolah dan masyarakat," katanya. (del/eno)