SLEMAN - Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah bagi Yogyakarta sehingga diperlukan kolaborasi semua pihak untuk bisa menuntaskannya. Dengan semangat tersebut, PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah (UIT JBT) UPT Salatiga memberikan bantuan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) pada Paste Lab.
Sebuah usaha daur ulang sampah plastik yang berlokasi di Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.
Senior Manager Keuangan, Komunikasi, dan Umum PLN UIT JBT, Firdaus Mochamad Nur menjelaskan, Paste Lab adalah bentuk usaha nyata dari anak muda yang peduli pada lingkungan khususnya dalam pengelolaan sampah. Mulai dari tahap pemilahan hingga daur ulang menjadi produk yang bernilai guna.
"Apalagi plastik ini adalah sampah yang sulit terurai, butuh ratusan, bahkan mungkin ribuan tahun," terangnya dalam Launching Program TJSL 2025 dengan bertempat di Ruang Literasi Kaliurang, Kamis (20/11).
Untuk itu, dia menilai usaha Paste Lab sudah semestinya diberikan dorongan. Agar nantinya pencemaran dan kerusakan lingkungan bisa ditekan.
Firdaus bercerita lewat program TJSL ini PLN UIT JBT sudah menggelontorkan dana sekitar Rp200 juta.
Sasarannya untuk membeli berbagai peralatan pengolahan sampah, membuat pelatihan pada bank sampah, dan untuk mengikuti pameran agar produk Paste Lab bisa semakin dikenal.
Program ini juga turut berperan dalam penyediaan mobil edukasi sebagai sarana simulator daur ulang. Jadi, masyarakat bisa langsung mempraktikkan cara mengolah plastik. Baginya mobil keliling ini adalah sarana yang efektif karena edukasi jadi bisa dilakukan di mana saja.
"Langsung terlihat bagaimana plastik dicacah, dibersihkan, dan dipanaskan untuk dibentuk jadi barang bermanfaat," tambahnya.
Sementara itu, CEO Paste Lab Rifqi Dwantara menjelaskan, dalam TJSL tahun kedua ini Paste Lab memang berfokus untuk menciptakan sirkular ekonomi dalam pengelolaan sampah.
Sesuai tema yang dibawa, yakni Suar Sirkular: Bersinar Sadar, Berdaya Sirkular. Program dilakukan lewat kerja sama antara bank sampah maupun pegiat lingkungan. Jadi, di sela-sela memproduksi dan menjual produk, dilakukan kegiatan edukasi rutin. Sebulan sekitar dua hingga tiga kali workshop diadakan.
"Satu kali workshop itu targetnya 50 orang. Sasarannya usia produktif dari 17 sampai 25 tahun," katanya.
Edukasi dilakukan dengan mobil keliling yang disebut dengan Pak Becik. Di dalamnya membawa alat instalasi sederhana sehingga peserta yang membawa sampah, saat pulang pelatihan dapat langsung membawa produk dari sampah plastik yang diolah.
Staf Ahli Bupati Sleman Bidang Pemerintahan dan Hukum Tina Hastani yang juga hadir turut mengapresiasi program TJSL yang diberikan ini.
Dia menyebut semua pihak yang ikut serta mencari solusi persoalan sampah memang harus diberikan dorongan.
"Tentu ini bisa jadi contoh dan semangat untuk pengelola sampah yang lain agar ke depan bisa semakin efektif dan efisien," katanya.
Usai Launching Program TJSL ini, kegiatan dilanjutkan dengan workshop yang berkolaborasi dengan Ruang Literasi Kaliurang.
Workshop ini sebagai implementasi dari semangat suar sirkular ekonomi. Kegiatan diikuti sekitar 20 peserta dari berbagai bank sampah di Yogyakarta. Fokusnya adalah untuk menunjukkan proses pembuatan gantungan kunci yang dibuat dari cacahan plastik. (del)
Editor : Bahana.