SLEMAN - Sinoman adalah tradisi masyarakat Jawa untuk secara sukarela membantu dalam acara hajatan. Di dalamnya banyak pakem yang mesti dikuasai agar tamu merasa puas. Salah satu sosok yang mengajarkan ilmu sinoman ini adalah Sugeng Raharjo.
Pria 63 tahun ini kerap kali mengisi workshop mengenai sinoman, bahkan sempat berangkat hingga Kabupaten Pacitan. Sugeng juga menjadi narasumber dalam sebuah film dokumenter yang juga berjudul Sinoman.
"Sinoman identik dengan anak muda. Tujuan sinoman hanya perangkat sosial saja, untuk gotong royong," terang Sugeng saat ditemui di rumahnya, Minggu (16/11).
Pria asal Sumberharjo, Prambanan, Sleman ini menilai, saat ini nyinom dianggap sebagai kegiatan yang lumrah saja. Sehingga adab dalam melayani dan menyajikan hidangan untuk tamu mulai ditinggalkan. Lewat keprihatinan itu dia mulai mengisi workshop mengenai sinoman ini. Dibantu media sosial, kegiatannya mengisi materi ini semakin sering di sela-sela kesibukannya sebagai Master of Ceremony (MC) berbahasa Jawa.
"Ada etika yang harus dijalankan. Supaya tamu senang, krasan, dan merasa diuwongke. Ini seni melayani tamu," katanya.
Sugeng menceritakan berbagai adab yang perlu diperhatikan saat nyinom. Misalnya, cara memegang gelas. Etika yang benar adalah memegang pada bagian badan gelas, bukan bibir gelas. Itu pun cukup dengan tiga jari saja menggunakan tangan kanan. Sementara saat menyajikannya, tangan kiri menyentuh tangan kanan sembari badan sedikit membungkuk dan wajah harus tersenyum.
Begitu pula saat menyajikan makanan. Sendok di piring harus diposisikan di sebelah tangan kanan tamu agar memudahkan. Termasuk apabila menggunakan cangkir. Pegangannya harus berada di sebelah kanan tamu saat disajikan. Sementara saat memberinya juga dipegang pada badan cangkir.
"Etikanya makanan dan minuman itu dibawa pakai nampan. Saat mengangkat nampan juga sedikit di atas mulut. Kalau bersin, air liurnya enggak masuk," katanya.
Pensiunan perangkat Kalurahan Sumberharjo ini juga menegaskan, makanan atau minuman yang dibawa jumlahnya juga harus disesuaikan dengan ukuran nampan agar tidak tumpah. Saat membawa nampan kosong juga layaknya membawa berkas di antara tangan dan samping badan. Jangan justru diayun-ayunkan atau dibawa di atas kepala. Apabila hajat diselenggarakan dalam bentuk lesehan maka para laden harus jongkok saat menyajikan hidangan. Tidak boleh berdiri.
Waktu saat menarik piring dan gelas kosong juga penting diperhatikan. Ngloroti ini harus menunggu tamu benar-benar selesai. Jangan sampai tamu merasa risih dan terburu-buru. Pakaian para pramuladi ini juga harus rapi dan sopan. Akan lebih baik apabila menggunakan seragam. Dia juga mengingatkan agar para pramuladi mematuhi instruksi dari koordinator yang ditunjuk saat prosesi sinoman.
"Saya tahu karena dulu ketua pemuda. Dari sesepuh itu pakai laku dodok, pakai jarik jalannya jongkok waktu nyinom," kenangnya.
Baca Juga: BPBD Gunungkidul Salurkan 216 Tangki Air Bersih, Realisasi Droping Turun karena Kemarau Lebih Pendek
Menurutnya, sinoman hingga saat ini masih relevan, terutama di wilayah pedesaan yang masih jarang menggunakan Wedding Organizer. Baginya tanpa adanya sinoman ini maka hajat tidak akan bisa jalan.
"Nyinom itu tradisi. Kalau sudah dimintai tolong harus punya rasa tanggung jawab, serius, jangan malah membuat malu yang punya hajat," pesannya. (del)
Editor : Sevtia Eka Novarita