SLEMAN – Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Berdasarkan laporan periodik Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), pada tanggal 6 November 2025, tercatat puluhan kali guguran dan empat kali luncuran lava ke arah barat daya.
Dalam periode 24 jam pengamatan, gunung api setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini mengalami 75 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-29 mm dan durasi 40,65-196,23 detik. Selain itu, terekam juga 55 kali gempa hybrid/fase banyak serta satu kali gempa vulkanik dangkal.
Secara visual, asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 20-25 meter di atas puncak kawah. Cuaca di sekitar gunung didominasi cerah dan berawan dengan angin tenang mengarah ke timur.
Laporan BPPTKG juga menyebutkan teramatinya empat kali guguran lava mengarah ke Barat Daya, tepatnya ke Kali Krasak dan Kali Bebeng, dengan jarak luncur maksimum 1.700 meter.
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi tetap berada pada Level III (Siaga). BPPTKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi keselamatan bagi masyarakat.
Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas (APG) di sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong (maksimal 5 km), serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km). Sektor tenggara, yakni Sungai Woro (3 km) dan Sungai Gendol (5 km), juga berpotensi terdampak. Lontaran material vulkanik dari letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
BPPTKG menegaskan bahwa suplai magma ke Gunung Merapi masih berlangsung. Hal ini berpotensi memicu awan panas guguran di dalam daerah bahaya yang telah ditetapkan.
Masyarakat diimbau untuk:
1. Tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam daerah potensi bahaya.
2. Mewaspadai ancaman lahar dan awan panas guguran, terutama saat terjadi hujan di sekitar kawasan Merapi.
Baca Juga: PMI Kota Magelang Gelar Kompetisi Komunitas Sadar Bencana, Wujudkan Masyarakat Siap Tanggap Darurat
3. Mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik jika terjadi erupsi.
Pihak berwenang akan segera meninjau kembali tingkat aktivitas gunung api ini jika terjadi perubahan signifikan. Masyarakat diharapkan terus memantau perkembangan informasi resmi dari BPPTKG melalui kanal-saluran komunikasi yang tersedia.
Laporan ini disusun oleh Suratno dan Yulianto dari BPPTKG, berdasarkan data dari Kementerian ESDM, Badan Geologi, dan PVMBG. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui laman resmi MAGMA Indonesia di https://magma.esdm.go.id. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin