SLEMAN - Di kaki Merapi, kebersamaan menjadi napas utama kehidupan.
Menjelang akhir November 2025, warga Kalurahan Hargobinangun, Pakem, Sleman, kembali membuktikan bahwa semangat gotong royong bukan sekadar warisan, melainkan kekuatan yang terus hidup.
Mereka bersiap menggelar Festival Budaya Lereng Merapi 2025 bertajuk “1.000 Pesona Lereng Merapi” pada Sabtu, 22 November 2025 di Gelora Hargobinangun.
Tidak hanya menghadirkan 1.000 penari dan ribuan suguhan kuliner khas, festival ini adalah karya kolektif warga.
Dari kelompok seni, pelaku UMKM, komunitas wisata, hingga petani dan peternak yang bahu-membahu menyiapkan segala sesuatunya.
“Semua ini bukan kerja panitia saja, tapi kerja bareng warga."
"Ada yang nyumbang kopi, ada yang nyiapin tumpeng, bahkan anak-anak muda ikut mendekor panggung dari bambu dan janur,” ujar Lurah Hargobinangun Amin Sarjito.
Menurut Amin, esensi utama festival ini bukan pada besarnya acara, tetapi pada keterlibatan masyarakat di setiap tahap persiapan.
“Festival ini bukan sekadar tontonan, tapi ruang ekspresi warga untuk meneguhkan jati diri dan rasa bangga terhadap budaya lokal,” imbuhnya.
Tahun ini, penyelenggaraan festival hanya berlangsung satu hari satu malam, berbeda dari tahun sebelumnya yang digelar selama tujuh hari tujuh malam.
Namun, Ketua Panitia Mateus Sumardi memastikan maknanya tidak berkurang.
“Dari kaki Merapi kami mempersembahkan 1.000 pesona, dari 1.000 penari, 1.000 tumpeng, 1.000 jadah tempe, 1.000 kopi, sampai 1.000 nasi kucing yang dibagikan gratis untuk masyarakat,” jelasnya.
Puncak acara akan diwarnai pelepasan 1.000 ekor burung endemik Merapi, simbol harmoni antara manusia dan alam.
“Ini doa bersama agar Merapi tetap lestari dan warga sejahtera,” tutur Mateus.
Kepala Dinas Pariwisata Sleman Edy Winarya menilai, kegiatan seperti ini menjadi contoh ideal sinergi antara budaya dan pariwisata.
“Budaya adalah investasi jangka panjang, sementara pariwisata menjadi cara menghidupkannya,” katanya.
Ia menambahkan, kawasan Kaliurang dan sekitarnya punya posisi penting dalam peta wisata Sleman.
“Orang belum bisa dibilang ke Sleman kalau belum mampir ke Kaliurang,” ujarnya sambil berharap festival ini mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
Perayaan yang juga menandai HUT ke-79 Kalurahan Hargobinangun ini menjadi contoh nyata kemandirian warga desa wisata.
Dekorasi dari bahan alam (bambu, daun kelapa kering, dan penjor) dikerjakan bersama dengan prinsip ramah lingkungan.
Sementara pelaku wisata dan kuliner setempat ikut berpartisipasi dengan promo diskon 7,9 persen, simbol ulang tahun kalurahan.
Sebagai penutup, panggung rakyat akan menampilkan Saleho Karya Budaya dan Abah Lala, menghadirkan hiburan bagi semua kalangan.
“Kami ingin festival ini menjadi ruang silaturahmi, tempat warga lereng Merapi bersyukur, sekaligus memperkenalkan pesona budaya yang kami miliki,” ujar Amin Sarjito. (ayu/iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin