SLEMAN - Tiga lokasi makam yang berada di Padukuhan Kaweden, Tirtoadi, Kapanewon Mlati segera dipindahkan. Tidak ada lagi makam yang perlu dibebaskan untuk proses pembangunan Tol Jogja-Solo Paket 2.2.
Humas Proyek Tol Jogja-Solo-YIA Area DIY PT Adhi Karya (Persero) Tbk Agung Murhandjanto menjelaskan, dari tiga lokasi makam yang ada di lahan berstatus Sultanaat Grond ini terdapat 400 jenazah. Nantinya akan dipindah dan dijadikan satu di Sultanaat Grond yang tidak terdampak bangunan tol.
"Hari ini (kemarin, Red) baru sugengan peletakan batu bersama untuk pemasangan pagar. Target pemindahan selesai akhir November," terangnya dihubungi, Jumat (31/10).
Nantinya panitia akan bekerja sama dengan pihak ketiga yang memiliki keahlian dalam pemindahan makam. Selanjutnya akan dibuat berbagai prosesi pemindahan jenazah, seperti tahlilan, pengajian, hingga selametan.
"Jadi sudah clear untuk paket 2.2 karena sudah dipindah semua makam yang terdampak. Semoga progres pembangunan bisa dipercepat," harapnya.
Meski demikian, Agung menyebut masih ada lahan terdampak yang belum dibebaskan. Salah satunya adalah SD Negeri Nglarang. Saat ini pihaknya masih menunggu proses dari Pemkab Sleman karena tanah lokasi pengganti masuk dalam lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B). Proses izin mesti panjang hingga tingkat kementerian.
"Jadi kami menunggu calon lahan pengganti. Tidak ada target khusus kapan dipindah karena menyangkut regulasi. Pekerjaan yang kami sesuaikan," tambahnya.
Disinggung soal progres pekerjaan tol, Agung menyebut sudah mencapai 69,9 persen. Saat ini tengah dilakukan berbagai pekerjaan. Di antaranya perkerasan rigid pavement, pengeboran pondasi ramp off, hingga pemutaran pierhead dengan teknik sosrobahu. "Untuk waktunya tersisa 23 persen lagi atau 275 hari," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Tim Pelaksana Pemindahan Makam Al Iswat Semarang Joko Yudho menjelaskan, akan ikut bergabung dalam pemindahan tiga makam ini. Dia sebut tidak ada persiapan khusus yang dilakukan. "Kami akan survei lokasi, selametan tiga hari di Semarang sebagai ritual pemindahan, dan selametan di lokasi," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita