SLEMAN - Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BBPPMT) Yogyakarta turut mendorong kebijakan transformasi transmigrasi lewat pelatihan transmigran lokal.
Program ini terfokus pada pemberdayaan masyarakat setempat sehingga ketimpangan sosial di kawasan transmigrasi dapat terhapuskan.
Pelatihan dilaksanakan di BBPPMT Yogyakarta selama tujuh hari.
Sejak 29 Oktober sampai 4 November 2025 dengan durasi 64 jam pembelajaran.
Materi yang diberikan beragam, seperti pengolahan lahan dan budidaya peternakan.
Pelatihan ini menyasar 75 calon transmigran angkatan IV dan V Tahun 2025.
Dengan lokasi penempatan di UPT Torire, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah dan UPT Lagading, Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan.
Kepala BBPPMT Yogyakarta Tunggak Santosa menjelaskan, pelatihan ini penting sebelum transmigran berangkat menuju lokasi penempatan.
Agar nantinya bisa menjadi sumber daya manusia (SDM) yang siap membangun kehidupan baru di kawasan transmigrasi.
"Program transmigrasi saat ini telah memasuki babak baru yang disebut transformasi transmigrasi," terangnya memberi pengarahan.
Transformasi ini menjadikan transmigrasi bukan sekadar pemindahan penduduk.
Namun, menciptakan insan yang bisa jadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi di daerah, membuka lapangan kerja baru, serta memperkuat integrasi sosial.
Keberhasilan program ini dinilai sangat bergantung pada kesiapan SDM.
Terlebih, para transmigran yang disasar kali ini adalah penduduk setempat.
Mereka dinilai telah mengenal karakter wilayah dan kondisi sosial di sekitar lokasi.
"Pelatihan ini dirancang untuk memperkuat potensi lokal sekaligus menumbuhkan semangat kerja kolektif," tegasnya.
Tunggak menegaskan, BBPPMT Yogyakarta sebagai unit pelaksana teknis Kementerian Transmigrasi terus berkomitmen mendukung kebijakan transformasi transmigrasi.
Lewat program pelatihan yang relevan ini dia yakin para peserta bisa menjadi bagian dalam pembangunan nasional.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Poso Frits Sam Purnama berharap, ilmu dari pelatihan ini bisa diterapkan di wilayahnya sehingga dapat berkembang.
Program ini dia sebut sebagai peluang untuk membuka kehidupan baru para transmigran lokal.
"Apalagi di Poso lahannya subur. Ada kopi, kako, durian yang harganya luar biasa," katanya.
Hal senada diungkapkan oleh Sekretaris Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sidenreng Rappang, Syahrul Mubarak.
Dia menyebut potensi hortikultura di wilayahnya begitu besar, seperti cabai dan jeruk nipis. Begitu juga peternakan kambing dan sapi.
"Harapannya setelah pelatihan ini para transmigran bisa menyejahterakan diri sendiri dan keluarganya," tambahnya. (del)
Editor : Meitika Candra Lantiva