JOGJA - Gubernur DIY Hamengku Buwono (HB) X akhirnya keluar dari dalam Mabes Polda DIJ. Dengan diiringi Gendhing Raja Manggala, HB X memberikan petuah di hadapan ribuan massa aksi.
Tapi, pasca HB X memasuki Mabes Polda, situasi di luar masih ricuh. Di dalam, suara letusan dan batu yang berjatuhan di atap terdengar semakin sering dan mencekam.
Lebih dari dua jam rombongan Raja Keraton Jogja itu menunggu di Ruang Soeryapranoto, Polda DIJ. Sekitar pukul 00.30, salah satu personel kepolisian mendapatkan telepon dari orang yang mengaku sebagai perwakilan dari mahasiswa peserta aksi.
Dalam perbincangan itu, perwakilan mahasiswa mengajak bertemu Kapolda DIJ untuk menyudahi aksi yang berlangsung ricuh sejak sore hari tadi.
Telepon pun diberikan kepada Kapolda DIJ Irjen Pol Anggoro Sukartono. Kapolda pun menyetujui permintaan audiensi mendadak dari perwakilan tersebut.
Perwakilan massa pun akhirnya berhasil masuk ke Mapolda sekitar pukul 00.30. Selain perwakilan mahasiswa, beberapa orang dengan menggunakan jaket ojol juga mendampinginya.
Di dalam ruangan, mereka menemui sekaligus berdialog dengan Kapolda dan HB X. Dialog tersebut pada intinya membicarakan cara untuk meredam situasi yang semakin memanas.
Perwakilan massa aksi meminta tolong agar HB X mau keluar untuk memberikan wejangan kepada massa aksi di luar. Selain itu, ia juga meminta Kapolda untuk melepaskan beberapa orang yang masih ditahan.
Baca Juga: Gubernur DIY HB X Datang, Massa Aksi Kawal dan Bukakan Jalan Masuk ke Mapolda
Untuk meredam massa, perwakilan mahasiswa mengusulkan agar perjalanan HB X keluar sembari diiringi gendhing Jawa. Gendhing Jawa pun mulai diputar dengan pengeras suara. Itu juga sebagai tanda agar massa tahu bahwa Raja keraton Jogja sekaligus Gubernur akan keluar.
HB X beserta dua putri dan memantunya, kemudian perwakilan mahasiswa dan Kapolda mulai keluar dengan didampingi sepuluh anggota kepolisian tanpa tameng dan pelindung seperti helm dan rompi.
Melihat HB X keluar, massa aksi mulai tidak begitu ricuh. Mereka kemudian serentak duduk dan mendengarkan wejangan dari pemimpinnya.
"Saudaraku semua, baik masyarakat maupun ojol. Saya Hemengku Buwono X perlu menyampaikan dalam kesempatan ini saya menghargai apa yang anda semua lakukan," ujar HB X mengawali pembicaraan kepada massa.
HB X menghargai terkait aspirasi yang dilakukan oleh massa. Menurutnya, itu merupakan salah satu dari keinginan bersama untuk tumbuhnya demomrasi di Indonesia.
"Saya berharap (mewujudkan) demokrasi dilakukan dengan baik untuk mendidik kita semua, termasuk diri saya," ucapnya.
Menurutnya, DIJ tidak terbiasa dengan kekerasan untuk membangun demokrasi. Bahkan, ia turut prihatin atas meninggalnya driver ojol di Jakarta Affan Kurniawan.
"Kenapa selalu ada korban dalam membangun demokrasi. Kita di Jogja menghargai hak hak warga masyarakatnya," katanya.
Ia berharap, menyalurkan aspirasi dilakukan dengan berdiskusi dan berdialog, terlebih apabila terdapat problematika. Ia siap menampung aspirasi dari masyarakat, baik melalui dialog ataupun secara tertulis melalui surat.
"Kami memfasilitasi untuk berdialog dengan pusat baik saya lakukan sendiri maupun lewat surat," jelasnya.
Sepulang dari tugas di Jakarta, lanjutnya, HB X lalu bergegas ke Polda DIJ untuk mengetahui permasalahan sebenarnya.
"Harapan saya, karena sudah mulai pagi, mari kita kembali pulang dan bertemu dengan keluarga," terangnya.
Selepas HB X kenbali ke dalam, massa aksi hingga kini masih bertahan dan masih terjadi ricuh. (oso)
Editor : Heru Pratomo