Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Komisi B DPRD DIY Kunjungi Jamal Farming di Dusun Barak Gede, Margoluwih, Seyegan, Sleman, Petani Milineal Motor Penggerak Pertani Modern

Delima Purnamasari • Kamis, 28 Agustus 2025 | 14:30 WIB

 

 

UNTUNG MENJANJIKAN: Ketua Komisi B DPRD DIY Andriana Wulandari (baju merah, Red) berdiskusi soal pengembangan jamur lingzhi saat kunjungan ke Jamal Farming di Seyegan, Sleman, Rabu (27/8).
UNTUNG MENJANJIKAN: Ketua Komisi B DPRD DIY Andriana Wulandari (baju merah, Red) berdiskusi soal pengembangan jamur lingzhi saat kunjungan ke Jamal Farming di Seyegan, Sleman, Rabu (27/8).

SLEMAN - Pimpinan dan anggota Komisi B DPRD DIY mengadakan kunjungan dalam daerah (KDD) ke Jamal Farming di Dusun Barak Gede, Margoluwih, Seyegan, Sleman. Kunjungan dalam rangka meninjau  kegiatan petani milenial di bidang agribisnis hortikultura.

 “Kami ingin melihat inovasi para petani muda. Saat ini pekerjaan di sektor pertanian luar biasa berat karena sulitnya mencari generasi penerus yang bersedia menjadi petani,” ujar Ketua Komisi B DPRD DIY Andriana Wulandari di sela kunjungan Rabu (27/8).

"Kebanyakan lebih memilih kerja di pabrik karena pertanian terlihat kuno," lanjutnya.

Melihat pencapaian Jamal Farming, potensi pertanian sebenarnya luar biasa. Terbukti petani milenial ini telah menjadi motor penggerak pertanian modern. “Semua pihak harus bisa mendukung lahirnya petani milenial," ajaknya.

Diakui, mayoritas masyarakat di Kalurahan Margoluwih bekerja sebagai buruh tani. Mereka tak punya lahan. Hanya menyewa tanah kas desa.  Memberikan pemahaman dan mengajak warga bergabung ke Jamal Farming merupakan tantangan tersendiri.

Disinggung soal kemungkinan Jamal Farming mendapatkan dukungan anggaran, Ndari, sapaan akrabnya, mengatakan tidak bisa serta-merta dilakukan. Pertimbangannya, kegiatan para petani milenial yang tergabung di Jamal Farming dikelola swadaya secara mandiri. Lahannya milik perorangan.

Ada kendala ketika bantuan pemerintah hendak diberikan namun tanah yang digunakan  berstatus milik pribadi. Dia menyarankan Jamal Farming mengembangkan usaha. Antara lain menggandeng Pemerintah Kalurahan Margoluwih agar bisa memfasilitasi pemanfataan tanah kas desa.

             Jalinan kerja sama agar diperluas. Ini menjadi peluang anak muda memperoleh  pendapatan di tengah sempitnya lapangan kerja. “Tidak perlu keluar dari desa. Mengelola potensi pertanian bisa mendatangkan rupiah,” sarannya.

Saat kunjungan itu, Ndari, bersama anggota Komisi B lainnya sempat mencicipi nanas sekaligus minuman olahan dari jamur lingzhi. Juga ikut memanen jamur di lahan milik Jamal Farming.

 

Anggota Komisi B DPRD DIY Muh Ajrudin Akbar mengakui jamur punya potensi dan pasar yang masih luas. Anak-anak muda banyak yang berminat. Mencegah ancaman punahnya profesi petani, Ajrudin meminta agar dibangun sekolah petani. Biayanya gratis.

Dewasa ini ada pergeseran minat para petani milenial. Dibandingkan padi, lebih tertarik di bidang hortikultura. Alasannya, ketika menanam padi di sawah 1000 meter persegi hanya menghasilkan Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Berbeda dengan mengembangkan. Hasilnya jauh lebih besar berlipat-lipat.

Pendiri Jamal Farming Jamaludin Nur Ridho menjelaskan, usaha jamur lingzhi sangat mudah. Budidayanya di dalam ruangan. Pemeliharaannya hanya perlu menyemprot air.  "Jamur obat khasiatnya luar biasa. Bisa mengobati kolesterol, darah tinggi, dan diabetes," katanya.

 Keuntungannya juga menjanjikan. Bila disetor ke perusahaan, harga jamur Rp 250 ribu per kilogram Sebaliknya, jika dijual langsung ke konsumen harganya Rp 300 ribu. Di pasar nasional dan luar negeri mencapai Rp 600 ribu per kilogram. Modal setiap baglog atau media tanam hanya Rp 4000. "Kami memiliki baglog hingga 20 ribu. Masa panen rentang waktunya empat bulan," katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY Syam Arjanti  mengungkapkan, jumlah petani milenial se-DIY baru mencapai 3.300 orang. Jumlah ini dinilai masih kurang. Setiap kabupaten/kota diharapkan memiliki seribu petani milenial.

Dia juga menilai perlu ada pengembangan inkubasi bisnis. Di dalamnya ada kumpulan para petani milenial. “Lalu nanti yang terbaik bisa diberikan hadiah,” ujar Syam. (del/kus)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Jamal Farming #Seyegan #komisi b #dprd diy #tanah kas desa #kunjungan dalam daerah #DIY #sawah #Pertanian Modern #Petani #Petani Milenial #Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan