SLEMAN - Penduduk lanjut usia (lansia) rentan terkena penipuan digital. Salah satunya disebabkan karena kurangnya pendampingan.
Program Manager Tular Nalar Giri Lumakto menjelaskan, penipuan digital ini berbahaya. Lantaran sampai bisa merugikan secara finansial. Selain itu, bisa menguras energi dan menyebabkan stres.
Baca Juga: 683 Lulusan SMK Kesehatan Disumpah, Dinkes Dorong Gabung Organisasi Profesi demi Perlindungan
"Mereka tertipu, tapi banyak lansia enggak melaporkan meski hilang uang. Mereka merasa malu karena dikerjai," katanya.
Faktor lain yang jadi perhatiannya adalah lansia yang banyak terpapar informasi hoaks. Dia menilai mereka tidak bisa sendiri dalam mengarungi media digital. Harus ada pendampingan.
"Para lansia yang kami dampingi mengaku baru dapat pendampingan di bidang kesehatan, tetapi dalam bidang dunia digital belum pernah," katanya.
Tular Nalar sendiri menerapkan langkah preventif dengan metode waspadai, kunjungi, cari. Sementara terkait informasi hoaks menggunakan cara membaca utuh, pengecekan fakta, dan menyebarkan informasi secara menyeluruh.
"Kami juga melihat peran keluarga dalam menyampaikan ilmu tentang dunia digital masih kurang," katanya.
Menurutnya, para lansia ini harus berkomunitas. Sehingga, dampak baik dari dunia digital bisa dirasakan secara maksimal.
Sementara itu, Presidium Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) Syifaul Arifin menjelaskan, pihaknya turut mengadakan akademi digital lansia. Di sini para lansia di beri ruang bercerita tentang pengalaman mereka dalam dunia digital, menjadi korban penipuan, hingga tak sadar ikut menyebarkan hoaks.
"Ketika mendapatkan telepon genggam dianggap sebagai mainan baru dan senang sekali. Kemudian mereka membagikan konten berbau agama yang terkadang ekstrem dan hoaks," jelasnya. (del)
Editor : Sevtia Eka Novarita