SLEMAN - Diaper jadi salah satu pekerjaan rumah dalam pengolahan sampah. Karena termasuk jenis sampah yang tak bisa diolah maupun dibakar. Tapi dengan sistem thermal decomposer pemusnah sampah tanpa asap, diaper atau yang dikenal dengan pampers bukan perkara.
"Karena dengan sistem ini mampu membakar sampah dengan tingkat kebasahan 55 persen sampai 80 persen," kata direktur utama PT Bumi Indah Berseri (BIB) Ratna D. Hapsari di sela launching perdana sistem thermal decomposer pemusnah sampah tanpa asap di Pasar Tlogorejo, Banyuraden, Gamping, Sleman, Rabu (7/5).
Meskipun dibakar, cara kerja sistem ini beda dengan alat pembakar sampah seperti insinerator. Hal itu karena, jelas Ratna, pemusnahan sampah dilakukan dengan panas dari briket yang berasal dari sampah itu sendiri. Pembakaran dengan sistem thermal pun berlangsung dalam suhu sekitar 90 derajat celsius.
"Bukan dibakar dengan api tapi dengan thermal berupa bara dari sampah itu sendiri," ungkapnya.
Waktu pembakaran pun relatif cepat. Rerata tak sampai 10 menit. Hasil pembakaran pun diklaim ramah lingkungan karena bukan berupa asap. Sehingga tidak terbentuk doxin dan furan hasil pembakaran langsung sampah yang bisa menyebabkan penyakit jika terhisap paru-paru.
Polutan yang ditangkap smover, lanjut Ratna, berupa padatan dan dapat diproses menjadi briket arang "Smover pada sistem thermal decomposer mampu menangkap asap dan polutan lainnya," kata dia.
Dalam sistem thermal decomposer sendiri asap yang keluar dari cerobong berupa steam atau uap air. Hal itu dibuktikan dengan tidak pedih di mata dan jika terkena tangan akan menjadi air. Sirkulasi air sendiri, dalam satu hingga dua minggu akan menjadi surfaktan salah satu komponen dalam deterjen.
"Tapi untuk itu masih butuh proses riset lagi, semoga bisa dikembangkan berikutnya," kata dia.
Sebagai penyedia jasa pemusnahan sampah, PT BIB sendiri sudah memiliki alat pemusnah sampah tanpa asap tersebut untuk kapasitas pengolahan dua hingga 10 ton. Dia pun menyebut, bisa menyesuaikan dengan luasan lahan untuk menempatkan alat.
"Yang di Banyuraden ini penempatan alat 9x4 meter, tapi bisa menyesuaikan kondisi TPS, untuk kapasitas 10 ton pun bisa dengan ukuran lahan 32-36 meter," paparnya.
Ratna mengaku untuk riset hingga menghasilkan sistem thermal decomposer sendiri sudah dilakukan sejak 2015 lalu. Tapi kemudian diintensifkan sejak marak darurat sampah. "Utamanya sampah bisa musnah, bisa jadi solusi tepat, cepat, ramah lingkungan serta zero waste," tuturnya.
Lurah Banyuraden Sudarisman mengaku akhirnya memilih menggunakan sistem thermal decomposer karena dinilai paling sesuai dengan kebutuhan di wilayah. Untuk sementara memang hanya memesan untuk kapasitas dua ton sambil melihat respon masyarakat selama uji coba.
"Kami nilai teknologinya paling sesuai karena efektif dan ramah lingkungan," katanya.
Editor : Heru Pratomo