Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi Muhammad Wahyudi menjelaskan, Gunung Merapi memang salah satu habitat dari Elang Jawa meski tidak pada seluruh kawasan. Populasinya terus dimonitor oleh Pengendali Ekosistem Hutan (PEH).
"Dulu hanya enam ekor, tetapi sekarang bertambah jadi sembilan," katanya.
Pantauan penambahan baru ada pada tahun 2024. Saat itu terpantau ada satu ekor Elang Jawa di sisi timur Gunung Merapi.
Wahyudi menjelaskan, strategi utama pengembangbiakannya adalah dengan menghindarkan dari perburuan lewat patroli rutin. Selain itu, memastikan ketersediaan pakan.
"Ini spesies top predator yang sulit sebenarnya dengan kondisi saat ini. Mudah diburu dan punya nilai ekonomi," katanya.
Dia berharap ke depan populasi Elang Jawa semakin meningkat. Hal ini turut dilakukan dengan upaya menjaga dan mengelola kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sendiri.
"Pelepasan Elang Jawa sendiri juga tidak bisa sembarang tempat. Tidak bisa digabungkan dengan elang lain nanti berebut teritori," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Klaten - Boyolali Ruky Umaya menjelaskan, pentingnya peran serta masyarakat dalam peningkatan populasi Elang Jawa ini. Dia menyebut mereka banyak membantu utamanya dalam menemukan jalur menuju lokasi sarang.
"Jadi bersama-sama melewati jalur yang blusuk. Dalam proses konservasi kami selalu melibatkan komunitas, masyarakat, dan akademisi," ucapnya.
Dia menambahkan pada Februari hingga Agustus lalu dilakukan pengamatan intensif. Mulai dari Elang Jawa bersarang, mengerami, menetas, belajar terbang, lompat antar cabang, sampai bisa meninggalkan sarang.
"Jadi elangnya masih bolak-balik di sekitar sarang. Pekerjaan rumah kami kini adalah memantau yang sudah jadi anakan itu," katanya. (del)
Editor : Bahana.