Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bekerja di Luar Negeri, Incar Gaji Tinggi 310 Warga Sleman Jadi Pekerja Migran

Delima Purnamasari • Jumat, 4 April 2025 | 01:48 WIB
Kepala Bidang Penempatan dan Peluasan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sleman Sumaryati.
Kepala Bidang Penempatan dan Peluasan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sleman Sumaryati.

JOGJA - Menjadi pekerja migran masih menjadi pilihan bagi masyarakat Sleman untuk memperoleh penghasilan tetap. Negara tujuan yang paling diminati adalah Malaysia dan Jepang, yang menawarkan peluang kerja di sektor formal dengan gaji lebih tinggi dibandingkan di dalam negeri.

 

Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sleman Sumaryati mengungkapkan, faktor ekonomi menjadi alasan utama masyarakat memilih bekerja di luar negeri.

 Baca Juga: Alat Deteksi Dini Diabetes Melitus Go International, Dosen UMY Dr Mahe : Kali ini Sasar Kalangan Pekerja Migran di Malaysia

"Bisa dibandingkan dengan penghasilan rata-rata di sini untuk bisa memenuhi kebutuhan pokok," katanya. 

 

Berdasarkan data yang dimiliki, saat ini terdapat 80 pekerja migran asal Sleman di Malaysia, disusul Jepang dengan 72 orang, serta Taiwan dan Hong Kong 63 orang. Secara keseluruhan, jumlah pekerja migran Sleman mencapai 310 orang, terdiri dari 154 laki-laki dan 156 perempuan. "Mereka banyak bekerja di bidang formal, daripada nonformal," ujarnya.

 

Sumaryati menyebut, pemerintah kabupaten berperan dalam memfasilitasi proses penempatan tenaga kerja, termasuk memastikan perusahaan yang merekrut telah memiliki izin resmi.

 

“Nantinya, perusahaan maupun calon pekerja akan saling ditinjau. Apakah nanti pekerjanya punya anak di bawah satu tahun atau tidak," jelasnya mencontohkan. 

 Baca Juga: Bikin Was-was, Inilah Kondisi Rumah Poniman Nyaris Ambruk Terkikis Sungai Sepuri di Nanggulan Kulon Progo

Namun, untuk pelatihan bahasa, pemkab belum memiliki fasilitas pendampingan langsung. Program tersebut masih menjadi kewenangan pemerintah provinsi.

 

"Kalau nanti sudah sampai di lokasi (penempatan), kami tetap membuka komunikasi asal melalui jalur formal," ucapnya. 

 

Menurutnya, komunikasi ini penting untuk mengantisipasi jika ada permasalahan selama bekerja di luar negeri. Terlebih, ia pernah menangani kasus pekerja migran asal Sleman yang penempatannya tidak sesuai dengan perjanjian kerja. Selanjutnya lewat kerja sama berbagai pihak, termasuk pemerintah provinsi akhirnya bisa dipulangkan menggunakan biaya perusahaan.

 Baca Juga: Jadwal Timnas Indonesia di Piala Asia U17, Tiga Pertandingan Dalam Kurun Waktu Delapan Hari

"Kami tetap punya kewajiban buat menerima aduan warga kami," tambahnya. 

 

Sementara itu, warga Sleman Anis Tri mengaku memilih bekerja di luar negeri karena alasan ekonomi. Dia melihat tetangga rumahnya memiliki banyak usaha setelah pulang dari luar negeri. "Temanku dulu rumahnya enggak layak huni, tapi sekarang jadi megah. Punya mobil, motornya juga banyak," tuturnya. (del/wia) 

Editor : Herpri Kartun
#Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sleman #Malaysia #pekerja migran