Namun, Bupati Sleman periode Harda Kiswaya 2025-2030 menilai pengembangannya tidak sukses.
"Silakan diperhatikan, apakah batik parijotho itu sukses? Enggak menurut saya," kata Harda saat ditemui pada Selasa (11/3).
Walau demikian, dia mengaku tidak akan melakukan tindakan drastis layaknya pelucutan di Kabupaten Kulon Progo. Harda akan lebih mengembangkan batik asli Sleman motif yang lain.
"Parijoto itu yang berhasil itu hanya berapa? Tertentu saja. Pembatiknya bahkan dari Klaten, apa gunanya," katanya.
Dia berencana akan mengundang para pembatik di Bumi Sembada. Selanjutnya, akan diberikan pendampingan dan pemahaman soal pemasaran.
"Sehingga jangan fokus suruh bikin parijoto, itu identik dengan seragam ASN. Saya enggak mau itu," katanya.
Dia mengaku akan memerintahkan semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk membeli batik yang dibuat oleh pembatik Sleman.
Nantinya untuk digunakan pada seragam hari Kamis dan Jumat. Selanjutnya, akan ditambahkan lurik untuk bisa ikut terangkat.
"Enggak usah dinamai. Terserah saja modelnya, yang penting pembatik Sleman," ujar Harda saat ditanyai soal jenis batik yang dimaksud.
Mantan Sekda Sleman ini juga menuturkan tidak akan membuat batik khas tersendiri selama periode kepimpinannya. Semua dia serahkan pada kreativitas para pembatik.
"Nanti masyarakat tak suruh memilih, enggak usah saya ngomong. Pilihan masyarakat yang akan membentuk nanti apakah parijoto masih ada atau enggak," tegasnya.
Harda menegaskan akan terus melihat perkembangan batik di Sleman. Apabila ada kendala maka dia berkomitmen untuk memberikan bantuan.
"Saya evaluasi agar nanti pesanan mereka juga bisa nambah. Pembatik Sleman saya beri potensi untuk bisa berkembang," tandasnya. (del)
Editor : Bahana.