Salah satu pengendara Erza Wahyu Kusuma yang sempat melewati Underpass Kentungan menyebut, banjir ini berpotensi menyebabkan aquaplaning.
Sebuah kondisi ketika ban hilang kontak dengan permukaan jalan.
Kondisi tersebut terjadi karena adanya lapisan air yang terperangkap di antara ban dan jalan.
Hal tersebut bisa menyebabkan kendaraan jadi sulit dikendalikan.
"Pasti kurang nyaman dan membahayakan. Apalagi kalau saat malam hari dan tidak tahu underpass sedang banjir," ujar laki-laki yang mengaku kerap melewati Underpass Kentungan ini.
Erza berharap agar banjir ini bisa benar-benar diatasi. Terlebih, setiap hujan turun pasti terjadi banjir.
"Saat di underpass memang tidak semestinya berkecepatan tinggi. Tapi banjir ini jelas berisiko," ungkapnya.
Berdasarkan pengamatan Radar Jogja hingga pukul 14.00 masih dilakukan penyedotan air. Terlihat ada bagian jalur yang ditutup untuk petugas melakukan pekerjaannya.
Traffic cone juga dipasang berjajar di sepanjang ruas. Tinggi air ada di atas mata kaki dan menyeluruh pada seluruh badan jalan.
Sementara itu, PPK 1.1 Provinsi DI Yogyakarta Ersy Perdhana membenarkan kondisi ini. Namun, pihaknya belum bisa memastikan penyebab dari banjir di Underpass Kentungan ini.
"Masih dalam penanganan, harus kuras dulu baru identifikasi masalah. Ini masih proses," katanya.
Meski demikian dia mengaku sudah melakukan berbagai antisipasi sejak tiga minggu yang lalu. Terutama dengan pembersihan ruang pompa.
"Ditemukan banyak pasirnya," tambahnya.
Ersy mengatakan, upaya pengurasan air telah dilakukan sejak pukul 08.00. Namun, dia tidak bisa memastikan waktu selesainya. Kondisi banjir sendiri semakin buruk karena hujan deras.
"Hujan deras, airnya malah nambah. Sementara sudah ada empat pompa berjalan," tandasnya. (del)
Editor : Bahana.