SLEMAN - Di Kabupaten Sleman terdapat 86 kalurahan. Namun, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Slelman mencatat baru ada satu wilayah yang menjadi desa mandiri gerakan membaca.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan Perpustakaan Sleman Christiana Rini Puspitasari menjelaskan, desa mandiri tersebut berada di Kalurahan Widodomartani, Kapanewon Ngemplak. Sementara itu, terdapat 27 kalurahan yang masih ada pada golongan Rintisan Kalurahan Gemar Membaca (RKGM).
"Dari RKGM kalau semakin baik naik tingkat jadi mandiri," jelas Rini.
Dia menerangkan, bagi wilayah yang masuk dalam RKGM telah diberikan bantuan berupa 100 eksemplar buku, neon box, serta rak. Fasilitas ini akan ditempatkan pada kantor kalurahan.
Baca Juga: Gelar Media Gathering, UNISA Yogyakarta Jalin Kemitraan dengan Media Massa
"Ini untuk membumikan literasi di masyarakat. Harapannya wilayah pemerintahan terkecil seperti kalurahan bisa ikut serta," ucapnya.
Menurut Rini, wilayah yang terpilih jadi RKGM ini dinilai memiliki embrio literasi ataupun keinginan yang kuat untuk membuat warganya gemar membaca. "Kalau pun tidak memiliki ruang memadai, biasanya setelah dibantu jadi bergerak mengusahakan," ucapnya.
Baca Juga: Belanja dan Pendapatan Negara Tumbuh Signifikan, Realisasi APBN DIY Mencapai Rp 19,18 Triliun
Meski demikian, dia menuturkan mewujudkan RKGM apalagi desa mandiri bukanlah hal mudah. Salah satu kendala utamanya adalah anggaran. "Ada kalurahan yang minta buku-buku anak karena memiliki ruang bermain anak," ucapnya. Baca Juga: Mary Jane Masih Ditahan di LPP Wonosari, Beranda Migran Sambut Baik Upaya Indonesia Pertimbangkan Pemindahan ke Filipina
Kebutuhan dan keinginan dari kalurahan memang coba diakomodasi dalam pemberian buku. Selain itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan biasanya juga akan turut memberikan rekomendasinya. Misalnya, buku tentang pemerintahan dan pengelolaan sampah.
"Kendala yang lain adalah sumber daya manusia yang terbatas. Tim kami harus dibagi-bagi," ucap Rini.
Kondisi tersebut juga membuat RKGM belum bisa diberikan pendampingan intensif. Baik itu untuk pengelolaan buku hingga pembuatan program literasi.
"Harapannya tentu ada transformasi perpustakaan berbasis inklusi. Jadi, perpustakaan tidak sekadar tempat meminjam buku, tapi juga berkegiatan," tandasnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita