Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Sehati Nilai Bank dan Sedekah Sampah di Sleman Masih Belum Optimal

Delima Purnamasari • Jumat, 8 November 2024 | 04:30 WIB

 

Wakil Ketua 1 Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Sehati Sleman Ani Sumiarti
Wakil Ketua 1 Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Sehati Sleman Ani Sumiarti

SLEMAN - Salah satu strategi pengentasan masalah sampah di Kabupaten Sleman adalah melalui program bank sampah dan sedekah sampah. Namun, Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Sehati menilai keduanya masih jauh dari kata optimal. 

Bank sampah sendiri merupakan program ketika nasabah bisa mendapatkan uang dengan menjual sampahnya. Sementara sedekah sampah, nasabah tidak mendapat uang karena didonasikan. Uang ini nantinya digunakan sesuai dengan kesepakatan pengurus. Misalnya, menunjang program hingga memperbaiki sarana prasana desa. 

 Baca Juga: Beberapa Kali Diguyur Hujan, Dinkop UKM Sleman Tetap Optimistis Target Pameran Potensi Daerah Bisa Tercapai

Wakil Ketua 1 JPSM Sehati Ani Sumiarti menjelaskan, kendala ini disebabkan oleh berbagai faktor. Utamanya karena kegiatannya yang bersifat sosial. "Saya pengurus bank sampah 10 tahun dapat gaji Rp 300 ribu setahun. Dihitung Rp 7.500 setiap minggu untuk dua jam. Banyak juga yang tidak dibayar," jelasnya. 

Menurutnya, kondisi ini menjadi alasan banyak lokasi bank sampah atau sedekah sampah tidak aktif. Padahal, di Sleman jumlahnya ada sekitar 300 unit. "Jadi ada hanya seperti formalitas saja. Kadang bank sampah lokasinya juga seadanya atau menumpang di rumah anggota," ucapnya. 

 Baca Juga: Belum Bisa Tidur Kalau Belum Menonton dan Mendengar Konten ASMR? Berikut Penjelasan Lebih Lengkapnya

Persoalan selanjutnya adalah pengurus yang mayoritas sudah lanjut usia. Ani bercerita kondisi ini kerap kali menghambat proses administrasi lantaran anggota yang hanya membuat catatan lewat tulisan tangan. 

Di sisi lain, kesadaran masyarakat untuk memilah dan menyumbangkan sampahnya juga masih minim. Ani mencontohkan, di Bank Sampah Kasturi tercatat ada 190 nasabah. Namun, yang berpartisipasi aktif hanya 20-30 orang saja. "Dalam satu bulan sampah yang kami terima 500 kilogram. Itu sudah termasuk lumayan," ucapnya. 

 Baca Juga: Masyarakat Gelisah Bernasib seperti PT KAI, GKR Condrokirono Minta agar Gugatan Tidak Dibesar-besarkan

Semua persoalan itu membuatnya tak heran jika serapan sampah melalui bank sampah atau sedekah sampah hanya 2,5 persen pada 2023. Kini, menurutnya penting untuk melakukan monitoring dan evaluasi terhadap dua program itu di setiap wilayah. "JPSM ini tempat silaturahmi untuk pengurus sedekah sampah, bank sampah, sekolah adiwiyata, perajin daur ulang, dan semua yang bekerja di bidang lingkungan. Harapannya semua bisa saling menguatkan," tandasnya. 

 Baca Juga: Pertanian dengan Irigasi Perpompaan Jadi Solusi Air Tanah yang Dalam di Sleman Barat

Sementara itu, salah satu warga Sleman Kasdiman mengaku sudah melakukan upaya minimalisasi sampah dengan membuat ekoenzim. "Kalau saya biasanya pakai kulit buah. Nanti dimasukkan ke ember khusus," ucapnya. (del/eno) 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#bank sampah #Sedekah sampah #masalah sampah #pengentasan #Jejaring Pengelola Sampah Mandiri #strategi #JPSM Sehati #Kabupaten Sleman