SLEMAN - Setiap perpustakaan diharapkan bisa mewujudkan lingkungan yang inklusif. Namun, untuk benar-benar mewujudkannya, pengelolaan perpustakaan di Sleman masih dihadapkan sejumlah kendala.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan Perpustakaan Kabupaten Sleman Christiana Rini Puspitasari mengatakan,orang tahunya perpustakaan itu enggak menarik. Gedungnya jelek.”Jadi hanya datang ketika kepepet saja," tuturnya, Kamis (19/9/2024)
Menurut Rini, stigma semacam itu jadi kendala dalam transformasi perpustakaan. Selain itu, anggaran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan masih cenderung kecil.Regulasi yang benar-benar mendukung juga masih perlu dikembangkan.Padahal, perpustakaan berbasis inklusi sosial dapat memberikan beragam manfaat. “Termasuk bisa meningkatkan kesejahteraan seseorang,” tambahnya.
Rini menerangkan, literasi bisa membuat ide jadi tidak mengambang. Melalui data yang ada di dalam berbagai literatur, berbagai program bisa diimplementasikan dengan tepat. "Inklusi itu berarti tidak eksklusif, membumi, dan gampang diakses," jelasnya.
Baca Juga: Pemkab Sleman Targetkan Pemeliharaan Jalan Sepanjang 240 Kilometer pada 2024
Dia mencontohkan, program workshop anggrek yang baru saja diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Di sini masyarakat disandingkan dengan berbagai referensi pendukung sehingga benar-benar tahu tata cara pengembangannya. "Kami akan memilih beberapa orang untuk dipantau secara intensif. Kami pandu dengan literasi yang ada agar hasilnya memuaskan," ucapnya.
Rini menilai, untuk benar-benar bisa mencapai perpustakaan yang inklusif, setidaknya harus diawali dengan kehadiran masyarakan di perpustakaan. "Digitalisasi banyak, tapi dengan datang langsung bisa meningkatkan ikatan antar komunitas," ucapnya.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menjelaskan, perpustakaan memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat. "Semua harus berkolaborasi untuk menumbuhkan minat dan kegemaran membaca dalam masyarakat," ucapnya. (del/din)
Editor : Din Miftahudin