SLEMAN - Sleman memiliki beragam warisan budaya. Salah satunya adalah Tari Badui. Seni petunjukaan yang khas dengan Salawat ini terus dilestarikan. Salah satunya oleh Riyadi Ahmad.
Riyadi sudah bergelut dengan Tari Badui sejak SMP. Kini, dia telah menjadi ketua Kelompok Badui Laras Muda yang beranggotakan 60 orang. Dia mengaku keturunan yang entah keberapa. “Sekarang tari ini sudah saya ajarkan ke cucu," jelasnya, Kamis (12/9/2024).
Menurut Riyadi, seni yang lahir dari Bumi Sembada ini awalnya tercipta dari orang-orang yang menggeluti dunia silat. Penggunaan musik i dipilih untuk memudahkan anggota menghapal gerakan silat yang rumit. Ilmunya turun-temurun sampai sekarang. “Kalau dulu, silat ini untuk memerangi penjajahan," kenangnya.
Selain gerakan tari, salah satu yang menarik pada seni ini adalah atraksi ketahanan tubuh, seperti menjilat api hingga menghancurkan berbagai macam alat pada tubuh. Untuk atraksi tersebut diperlukan ritual khusus. Anggota harus berzikir sejak tengah malam memohon perlindungan. "Nabi Ibrahim sebagai pedoman. Beliau dulu dibakar tidak bisa. Jadi berdoa agar kekuatan beliau bisa turun," ungkapnya.
Walau demikian, dia menekankan tujuan utama dari Tari Badui adalah meningkatkan solidaritas masyarakat. Di sisi lain, upaya mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Sudah ditanamkan sejak kecil kalau Badui menyenangkan. Jadi tidak pernah bosan.
Tari Badui sendiri membuatnya bisa menjelajah berbagai wilayah. Bahkan sampai ke Yaman. Riyadi berharap Tari Badui bisa terus bertahan dan semakin banyak diminati masyarakat. Khususnya warga Sleman. Namun, pelestarian tari ini juga menemui tantangan. Apalagi anggota ada yang sekolah, kuliah, pekerja, sampai buruh. “Banyak kesibukan," keluhnya. (del/din)
Editor : Din Miftahudin