Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Mulyantara, Ilustrator Wayang yang Juga Jadi Tukang Pijat

Delima Purnamasari • Jumat, 6 September 2024 | 03:50 WIB

 

Mulyantara ketika menunjukkan arsip karyanya
Mulyantara ketika menunjukkan arsip karyanya

RADAR JOGJA - Wayang jadi objek yang amat menarik bagi Mulyantara. Berawal dari hobinya sejak kecil menonton pagelaran mengantarkannya jadi seorang ilustrator wayang.

"Ilustrator itu gambar yang bisa bercerita. Jadi, saya menjadi penjembatan antara penulis dan pembaca," ujar Mulyantara saat ditemui di perumahan Sekip UGM yang jadi kediamannya.

Laki-laki 59 tahun ini mengaku sudah menggambar hampir seluruh tokoh wayang. Mulyantara juga sudah menerima berbagai penghargaan. Di antaranya Juara Favorit pada Festival Komik Tahunan Jawa Pos tahun 2001 dan Juara Kedua Lomba Lukis Wayang Gatotkaca Majalah Cempala tahun 1997.

Dia mengaku sudah hobi menggambar sejak kecil. Tembok hingga pintu kerap dia coret-coret. Hingga suatu ketika, ayahnya membelikan sebuah papan tulis berserta kapurnya. "Apapun yang saya lihat akan saya ingat lalu gambarkan," ucapnya.

Laki-laki yang bercita-cita ingin seperti Raden Saleh ini berkisah, hobinya menonton pagelaran wayang membuatnya menguasai banyak kisah. Saking sukanya menonton, Mulyantara tak malu mengaku beberapa kali membolos sekolah demi bisa menonton.

Ciri khas dari tiap wayang coba dia hapalkan. Kala itu, Petruk dan Semar jadi tokoh yang paling kerap dia gambar. "Dulu itu siang malam ada gelaran wayang," ucapnya.

Dia sempat aktif menggambar ilustrasi untuk majalah hingga koran. Namun, kini hanya bekerja untuk Majalah Memetri milik Dinas Kebudayaan Sleman dan Majalah Sempulur milik Dinas Kebudayaan DIY.

Mulyantara bercerita, untuk setiap gambar wayang hitam putih dia hargai Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu. Sementara jika berwarna, bisa mencapai Rp 200 hingga Rp 300 ribu.

 Baca Juga: Tanah Kalurahan di Kronggahan, Sleman Akan Dibangun Club Malam dan Karaoke, Belum Berizin: HB X Tegaskan Aturan Pemerintah Harus Dipatuhi

Laki-laki yang mengidolakan wayang Gatotkaca ini masih menggambar secara manual. Di kertas ukuran A3, dia akan membuat sketsa melalui pensin lalu baru ditebalkan. Nantinya gambar-gambar itu akan dipindai dan dikirimkan pada pemesannya. "Dulu pakai rapido, tapi sekarang sudah enggak ada padahal goresannya bisa bagus," keluhnya.

Contoh Karya Mulyantara
Contoh Karya Mulyantara

Sebagai ilustrator wayang, Mulyantara diberi pesan untuk tetap mengikuti pakem-pakem yang sudah ada. Menurutnya, gambar wayang tidak bisa diubah seenak hati. "Misal kakinya direnggangkan agar keliatan gagah waktu perang itu bisa, tapi tubuhnya ya sama," tegasnya.

Laki-laki lulusan SMSR ini menjelaskan, jika dia fokus menggambar wayang gaya Jogjakarta. Salah satu ciri khasnya adalah penggunaan permata untuk hiasan kepala.

"Gaya jogja itu wayangnya seperti orang menari. Jari kakinya lebih mekar dan mengarah ke bawah. Badannya lebih gemuk kalau dibanding gaya Surakarta," terangnya.

Dia mengaku tak pernah merasa jenuh dengan pekerjaan menggambar. Terlebih, apabila pesanan gambar tengah sepi dia masih bisa memperoleh penghasilan dari memijat.

"Saya ikut kursus pijat tidak hanya sekali. Buku yang saya baca dan guru saya banyak. Hasil saya kursus juga saya tuliskan pada sebuah koran," ujarnya.

Mulyantara sendiri mematok harga Rp100 ribu untuk sekali pijat dengan durasi sekitar satu jam. Dia juga akan meminta pengganti transportasi sebesar Rp20 hingga Rp 25 ribu.

Perjalanan hidupnya hanya membuat Mulyantara berharap agar media bisa terus hidup. Dengan demikian, bisa terus menjadi mata pencarian.

"Kalau mau tahu wayang ya sering lihat pagelaran dan baca buku. Ini identitas orang Jawa yang adiluhung kalau bisa ya dilestarikan," ucapnya kala ditanya soal pesan bagi anak muda. (del/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Sleman #mulyantara #ilustrator #wayang