Mereka disambut di Masjid Agung Sleman dr. Wahidin Soedirohoesodo, Senin (8/7).
Dokter Petugas Haji Kloter 53 Dewang Sadiyanto menuturkan, ada dua jamaah yang belum bisa ikut pulang lantaran sakit jantung.
Salah satunya kolaps saat salat. Setelah dibantu dengan napas buatan, jamaah dirujuk ke ICU.
“Hajinya sampai diwakilkan,” ujar Dewang.
Jamaah tersebut dirawat di rumah sakit di Makkah.
Sementara satu orang lagi, dirawat di Madinah.
“Jantungnya kambuh juga, kakinya sampai bengkak,” tutur Dewang.
Selama melakukan pengawasan kesehatan jamaah kloter 53, Dewang dibantu dengan satu dokter lain dan dua perawat.
Menurutnya, jumlah ini sudah cukup untuk mengawasi 353 jamaah pada kloter ini sebab adanya klinik di masing-masing hotel.
“Jadi tidak kewalahan. Dulu sampai infus di kamar, kalau sekarang infus ya di klinik,” tambahnya.
Soal suhu ekstrem di Arab, Dewang mengaku dampak terparah terasa kala pulang dari Mina menuju hotel.
Kondisi yang panas ditambah dengan kemacetan panjang sempat membuat jamaah lansia mengalami dehidrasi berat.
“Sampai rawat inap beberapa hari, tapi sekarang bisa ikut pulang bersama,” jelasnya.
Dia mengaku untuk stok obat dalam kondisi terkendali.
Untuk obat batuk kering memang sempat kehabisan, tetapi bisa digantikan dengan obat yang diperoleh dari Arab.
Secara umum, seluruh jamaah dari kloter 53 dalam kondisi sehat.
"Hanya tinggal batuk-batuk," ucapnya.
Kondisi ini akan dipantau selama 21 hari ke depan. “Kalau ada gejala kaku di tengkuk dan panas berkelanjuta tanda meningitis wajib lapor,” tambahnya.
Panitia Pemberangkatan dan Pemulangan Jamaah Haji Kabupaten Sleman Bahaudin menuturkan, jamaah haji terdiri dari enam kloter.
Dua kloter sebelumnya, yakni 48 dan 50, telah sampai pada Sabtu (6/7) dan Minggu (7/7).
“Hari ini ada dua kloter. Dua kloter sisanya datang minggu depan,” tambahnya.
Di Masjid Agung ini, pihaknya memberikan ucapan selamat datang sekaligus secara simbolis menyerahkan jamaah kembali pada keluarga.
Salah satu jamaah asal Kalasan Eni purwaningsih menuturkan, pelayanan haji kali ini cukup baik.
“Hanya saja kala di Mina ada yang kurang kasur. Tidurnya jadi di luar tenda,” tutur Eni.
Editor : Bahana.