RADAR JOGJA – Tempat berkhitan Juru Supit Bogem di Tamanmartani, Kalasan, Sleman tak pernah sepi pengunjung. Tak pernah mengandalkan promosi lewat media sosial, pelanggan datang karena testimoni dari mulut ke mulut.
“Adanya sekadar titik Google Maps karena sering ditanyakan,” tutur salah satu pengelola Juru Supit Bogem Aulia Kurniadi.
Menurutnya, kepercayaan masyarakat pada Juru Supit Bogem ditimbulkan dari komitmen dalam memberikan pelayanan. “Pasien itu kami anggap sebagai keluarga dari jauh yang baru datang ke rumah,” katanya.
Pola layanan yang selama ini dilakukan, tercermin dalam obrolan dengan pasien kala melakukan khitan. Biasanya, petugas akan bertanya mengenai cita-cita sekaligus mengaminkannya.
Kesan mendalam semacam itulah yang justru jadi strategi promosi. Hingga akhirnya, para pasien sendiri yang akan memberi testimoni kepada masyarakat di lingkungannya. Tak jarang, mereka turut mengunggahnya dalam kanal media sosial masing-masing. “Secara konvensional ini disebut getok tular,” tutur Aulia.
Hal inilah yang membuat Juru Supit Bogem bisa terus eksis hingga tiga generasi. Dia berharap bisa terus berkomitmen untuk melayani masyarakat.
Mengingat saat ini, masih ada 1-5 orang yang melakukan khitan setiap harinya. Namun jumlahnya meningkat hingga 50 orang per hari saat libur sekolah.
Heni, ibu yang tengah mengantarkan anak keduanya untuk khitan ini memilih Juru Supit Bogem karena sudah turun-temurun dari ayahnya. “Dulu anak pertama itu enggak sakit. Setelah satu hari sunat, langsung bisa main,” ujar perempuan asal Temanggung ini. (cr1/eno)