Banner tersebut merupakan bentuk kritik dari warga desa kepada pihak desa terkait, karena jalanan di daerah tersebut belum kunjung dibenahi.
Ketua RW 11 Minomartani Ahmad Basori mengatakan, bahwa banner tersebut kurang lebih sudah dipasang selama 2 Minggu lamanya.
Adanya banner tersebut juga merupakan inisiatif sepenuhnya dari warga Minomartani.
"Inisiasinya dari warga, terutama warga RW 11 ini, yang jalannya cukup parah tak kunjung dilakukan pengaspalan," katanya pada Radar Jogja, Sabtu (20/4).
Basori mengungkapkan, bahwa dari pihak desa sendiri sejatinya sudah ada wacana terkait pengaspalan atau pemeliharaan jalan tersebut sejak medio Juni 2023 lalu, namun hingga kini wacana tersebut juga tidak kunjung terealisasi.
"Sudah setahun lebih ini tidak ada pengaspalan, dari pihak desa juga belum ada aksi nyata untuk perbaikan," tuturnya.
Ia berujar, bahwa sekitar Minggu lalu ia juga sempat diajak bertemu dengan beberapa perangkat desa, namun dalam pertemuan itu justru membahas terkait banner yang dipasang di kawasan Minomartani tersebut.
"Saya ditanya pihak desa, siapa yang pasang banner, ya saya jawab itu dari warga semuanya, tapi dengan sepengatahuan saya. Total ada 3 banner yang dipasang di area jalan yang rusak," ungkapnya.
"Saya sebagai RW ya berusaha menjembatani aspirasi warga kepada pihak desa, begitupun sebaliknya. Banner ini kan datang karena sudah setahun lebih kami dijanjikan dan belum ada tindakan perbaikan," lanjutnya.
Ke depannya, Basori berharap dengan ramainya banner yang kini masih jadi perbincangan tersebut bisa memantik para pejabat desa untuk segera melakukan perbaikan jalan.
"Ini statusnya jalan desa, tapi yang lewat sini itu banyak dan aksesnya kemana-mana. Jadi harapannya semoga segera diperbaiki," serunya.
Editor : Bahana.