Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Prof Djamaludin Ancok Berpulang, Anak: Saya Setiap Hari Berkomunikasi Dengan Bapak, Sebulan Sekali Pasti Bertemu

Fahmi Fahriza • Sabtu, 16 Maret 2024 | 21:23 WIB
DUKA: Karangan buka memenuhi kawasan rumah duka Djamaludin Ancok yang berada di Sambilegi, Sleman.
DUKA: Karangan buka memenuhi kawasan rumah duka Djamaludin Ancok yang berada di Sambilegi, Sleman.

SLEMAN - Guru Besar Fakultas Psikologi UGM Prof Dr Djamaludin Ancok meninggal dunia dan telah dikebumikan pada Sabtu (16/3) di Makam Modinan Sambilegi, Sleman.

Kabar meninggalnya Djamaludin tersiar melalui berita lelayu dan dikabarkan meninggal pada Jumat (15/3) pukul 19.00 WIB.

Anak pertama Djamaludin, Faizal Djamaludin Ancok, mengatakan, tidak bisa setiap hari bertemu dengan sang bapak. Namun, ia selalu menjaga komunikasinya secara intensif.

"Saya bersama istri dan ibu di Jakarta, adik saya di Malaysia, jadi komunikasinya hanya bisa intensif melalui telepon atau chat," katanya pada Radar Jogja, Sabtu (16/3).

Faizal mengungkapkan, terakhir kali berkomunikasi dengan mendiang sang bapak pada Rabu (13/3) lalu.

Sementara pertemuan secara langsung dengan sang bapak, Faizal mengaku bertemu sekitar 10 hari lalu di Jakarta.

"Terakhir itu Rabu masih chat, lalu mulai hari Kamis tidak ada respons lagi dari bapak. Kalau ketemu itu sebulan sekali minimal, pasti ketemu," sambungnya.

Faizal cukup menaruh kekhawatiran. Termasuk dari pantauan CCTV di rumah ayahnya yang bisa diakses olehnya. 

Ia menyebut, pada Rabu sore, Djamaludin masih beraktivitas dengan membeli takjil di area depan rumahnya.

"Pantauan CCTV terakhir ya itu, setelah itu tidak ada lagi. Sampai akhirnya bapak meninggal," tuturnya.

Dikatakan, sebelum meninggal dunia, Djamaludin juga tidak mengeluhkan adanya penyakit tertentu yang dideritanya kepada sang anak.

"Saya kaget juga, karena selama ini tidak ada keluhan sakit lain selain vertigo dan asam urat. Tapi, kondisi fisiknya baik," ungkapnya. 

Bahkan, Faizal menyampaikan, di usianya yang sudah 77 tahun, Djamaludin masih bisa dan mampu untuk beraktivitas secara mandiri. Terhitung cukup sehat untuk orang seusianya.

"Ya, misalnya ke Jakarta sendiri, bapak itu masih bisa dan sehat. Jauh lebih sehat fisiknya malah dibandingkan ibu," bebernya.

Saat dikonfirmasi lebih lanjut terkait diagnosis penyebab meninggalnya Djamaludin, Faizal mengaku enggan mencari tahu lebih lanjut dan berusaha mengikhlaskan kepergiannya.

"Saya tidak tahu pasti penyebabnya, tapi mungkin mirip dengan adik saya yang meninggal mendadak juga 2018 silam," tandasnya. (iza)

Editor : Amin Surachmad
#guru besar #Sambilegi #Fakultas Psikologi UGM