Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lho! Ternyata Musim Kemarau di Yogyakarta Diprediksi Mundur Oleh BMKG, Berikut Penjelasannya

Iwan Nurwanto • Selasa, 5 Maret 2024 | 19:58 WIB
WASPADA: Petugas BPBD Sleman dan relawan melakukan evakuasi pohon tumbang dampak angin kencang kemarin (25/2).PUSDALOPS BPBD SLEMAN
WASPADA: Petugas BPBD Sleman dan relawan melakukan evakuasi pohon tumbang dampak angin kencang kemarin (25/2).PUSDALOPS BPBD SLEMAN

SLEMAN - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi musim kemarau tahun ini mengalami kemunduran dibandingkan tahun lalu.

Artinya, ada kemungkinan musim hujan di tahun 2024 akan berlangsung lebih lama.


Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, dari hasil pengamatan pihaknya musim kemarau di Yogyakarta mulai terjadi pada Dasarian I bulan Mei.

Namun untuk wilayah seperti Sleman bagian utara, Kulonprogo bagian utara, Gunungkidul bagian tengah, dan Gunungkidul bagian selatan kemungkinan baru memasuki kemarau pada Dasarian III bulan Mei.


Reni mengungkapkan, jika dibandingkan tahun lalu, musim kemarau tahun ini mengalami kemunduran.

Lantaran pada tahun 2023 wilayah Yogyakarta mulai memasuki musim kemarau pada Dasarian I bulan April.

Sehingga dari prediksi dari BMKG, musim kemarau tahun ini ada kemunduran satu dasarian atau sekitar sepuluh hari.


“Jika musim kemarau mundur artinya masih musim hujan atau masih pancaroba, artinya masih basah. Tentu berdampak pada pertanian tetapi tidak signifikan,” ujar Reni saat dihubungi, Selasa (5/3).


Lebih lanjut, Reni pun menyampaikan kalau pada musim hujan seperti sekarang juga masih ada potensi panas terik.

Hal itu, dikarenakan dari hasil streamline atau pantauan angin udara yang bertiup di atas langit Jawa dari arah tenggara cenderung memiliki sifat kering.


Kemudian, cuaca yang cerah dalam beberapa hari ini juga menyebabkan penyinaran matahari tidak terhalang oleh awan.

Sehingga pancaran sinar matahari pun terasa begitu panas terik.

Selain itu, posisi matahari pada bulan Februari cenderung relatif tepat berada tepat di atas Pulau Jawa.

Kondisi itu yang membuat intensitas matahari menjadi relatif tinggi.


Sementara untuk faktor lainnya juga dikarenakan kondisi berawan pada siang hingga malam hari namun tidak hujan.

Sehingga membuat cuaca terasa cukup gerah karena, panas yang diterima bumi justru tertahan oleh awan.


“Ada kondisi yang tidak mendukung pembentukan awan hujan dan berdampak pada meningkatnya suhu udara di DIY,” katanya.


Kemudian menghadapi berbagai potensi bencana hidrometeorologi selama musim penghujan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengaku, sudah mengajukan perpanjangan status siaga darurat.


Yakni, terhitung dari tanggal 1 Maret 2024 hingga 31 Mei 2024 mendatang. Kebijakan tersebut diambilnya karena melihat potensi bencana yang masih terus terjadi hingga beberapa bulan ke depan.


“Untuk perpanjangan status siaga darurat tinggal menunggu keputusan,” terang Bambang. (inu)

Editor : Amin Surachmad
#Yogyakarta #musim hujan #musim kemarau #BMKG