RADAR JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat masih ada 2.208 bayi stunting di Sleman. Penyebabnya tidak selalu karena kemiskinan, namun kurang tepatnya pemberian gizi.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman Cahya Purnama mengatakan, sebagian orang tua ada yang hanya memberi asupan karbohidrat kepada anaknya. Padahal untuk mengatasi stunting, pemberian gizi berupa protein sangat diperlukan.
"Bayi kalau hanya diberi karbohidrat itu hanya gemuk. Padahal memerlukan protein untuk meningkatkan tinggi badannya," beber Cahya kemarin (20/11).
Dia menyebut, temuan stunting terbanyak ada di Kapanewon Pakem 8,69 persen dan Seyegan 7,1 persen. Sementara untuk keseluruhan balita di wilayah tersebut tercatat ada sebanyak 55.213 jiwa. Dari jumlah itu, yang dapat dipantau kecukupan gizinya mencapai 48.957 balita atau sudah menyentuh sekitar 85 sampai 90 persen.
Meski demikian, dari indeks Elektronik Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPP GBM), stunting di Kabupaten Sleman menyentuh 4,51 tahun ini. Angka itu turun cukup besar dibandingkan tahun sebelumnya yang menyentuh 6,88.
"Penurunan stunting tahun ini melebihi harapan, target 2023 itu enam kurang sedikit. Namun dengan masifnya penanggulangan stunting tahun ini ternyata cukup bagus penurunannya," ujarnya.
Sementara itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyampaikan, pihaknya berupaya agar stunting di wilayahnya terus berkurang. Langkah-langkah yang dilakukan pemkab di antaranya dengan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), Tim Pendamping Keluarga (TPK), hingga Kader Pembangunan Manusia (KPM). "Kami terus berupaya untuk menekan angka stunting," ucapnya. (inu/eno)
Editor : Satria Pradika