Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hadapi Musim Kemarau Panjang, Kabupaten Sleman Kekurangan Daging Sapi dan Bawang Merah

Iwan Nurwanto • Senin, 21 Agustus 2023 | 21:59 WIB
KRISIS: Kondisi Sungai Code yang mengalami penyusutan air di kawasan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Jogja, Minggu (20/8). (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
KRISIS: Kondisi Sungai Code yang mengalami penyusutan air di kawasan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Jogja, Minggu (20/8). (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

 

SLEMAN - Musim kemarau panjang membuat komoditas daging sapi dan bawang merah di Kabupaten Sleman mengalami defisit. Produksinya belum bisa mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat. Sebagai solusi jangka pendek, Pemkab Sleman akan mendatangkan pasokan dua komoditas tersebut dari luar daerah.


Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman Suparmono mengatakan, dari catatan pihaknya hingga minggu ketiga bulan Agustus ini produksi bawang merah mencapai 25,9 ton. Namun untuk konsumsi di masyarakat terhadap komoditas tersebut mencapai 179 ton per bulan. Sehingga Kabupaten Sleman masih defisit sekitar 153 ton untuk komoditas bawang merah.


Kemudian untuk daging sapi, produksi di kabupaten Sleman sendiri mencapai 16 ton per bulan. Jumlah itu belum mencukupi kebutuhan masyarakat sebesar 31 ton per bulan. Artinya, untuk komoditas daging sapi di Bumi Sembada masih defisit sebesar 15 ton.


Melihat kekurangan tersebut, mantan Camat Cangkringan itu mengaku, solusi jangka pendek yang dilakukan oleh pihaknya adalah dengan mendatangkan komoditas bawang merah dan daging sapi dari luar daerah. Sementara untuk jangka panjangnya, DP3 Sleman akan berusaha mengembangkan sendiri bawang merah agar tidak lagi mengandalkan pasokan dari luar daerah.


"Dalam jangka pendek memang harus mendatangkan dari luar daerah. Tetapi khusus bawang merah DP3 berusaha mengembangkan di Sleman agar dalam 3-4 tahun yang akan datang Sleman bisa memenuhi sendiri," ujar Suparmono kepada Radar Jogja, Senin (21/8).


Sementara untuk komoditas lain, Pram sapaan akrabnya membeberkan, hampir semuanya aman. Contohnya untuk komoditas beras di Sleman yang surplus hingga 5.000 ton. Karena, produksi per bulan Agustus ini bisa mencapai 9.400 ton dengan tingkat konsumsi masyarakat hanya sekitar 4.000 ton.


Kemudian juga untuk daging ayam, dalam sebulan produksi daging ayam di Sleman bisa mencapai hingga 1.040 ton. Sementara untuk tingkat konsumsinya hanya sekitar 484 ton. Yang artinya wilayah tersebut masih bisa surplus hingga 556 ton. Untuk telur pun mengalami surplus sebesar 191 ton. Karena dari produksi sebesar 736 ton tingkat konsumsi masyarakat hanya 545 ton.


"Untuk Sleman yang masih defisit hanya daging sapi dan bawang merah. Yang lain stoknya aman dan tetap surplus," terang Suparmono.


Sebelumnya, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyampaikan, bahwa sektor pertanian memiliki peran penting terhadap ketahanan pangan. Ia pun meminta agar para petani bisa terus membuka diri untuk bekerja sama dengan para ahli.


Itu mencakup ahli di bidang pertanian dan pangan, maupun ahli di tingkat perguruan tinggi. Selain itu, ia pun mendorong para petani milenial bisa digandeng dalam upaya pengembangan pemasaran dengan teknologi terkini.


"Dengan kerjasama ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian dalam negeri. Sehingga kita tidak banyak melakukan impor," pesannya. (inu)

Editor : Amin Surachmad
#daging sapi #Kemarau Panjang #bawang merah