Ketua Panitia Saparan Bekakak 2022 Bambang Cahyono menuturkan prosesi tetap sama. Berupa arak-arakan boneka pengantin dari tepung beras. Adapula rombongan bregada prajurit, ogoh-ogoh dan gunungan hasil bumi.
"Tetap mempertahankan nilai tradisi. Saparan bekakak yang ada di Ambarketawang Gamping ini menurut sejarah mulai ada tahun 1755. Ya sekarang sudah 260-an tahun," jelasnya ditemyui di Kantor Kalurahan Ambarketawang Gamping, Sleman, Jumat sore (9/9).
Pria yang juga menjabat Dukuh Gamping Kidul ini menuturkan Saparan Bekakak berawal dari pembangunan Karataon Ngayogyakarta Hadiningrat. Kala itu Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I mendirikan bangunan karaton dengan material dari Gunung Gamping.
Proses pembangunan harus disertai kisah sedih. Ini karena para abdi dalem dan pekerja harus kehilangan nyawa. Akibat tertimbun material saat menambang di Gunung Gamping.
"Waktu itu banyak kejadian kecelakaan kerja dalam hal ini banyak penambang batu Gamping kejatuhan batu gamping. Termasuk abdi dalem Ki Wirasuta dari Pangeran Mangkubumi termasuk terkena runtuhan batu gamping," katanya.
Setelahnya Pangeran Mangkubumi mendapatkan petunjuk. Untuk mengadakan ritual Saparan Bekakak di kawasan tersebut. Pasca ritual, tidak ada lagi korban akibat penambangan batu gamping.
"Dalam meditasi dapat petunjuk dari yang maha kuasa dibuatkan sesaji dalam bentuk bekakak atau sepasang penganten dibuat dari beras Jawa dan beras ketan,," ujarnya.
Untuk saat ini prosesi menggunakan dua pasang bekakak. Berlanjut kemudian diritualkan di dua lokasi berbeda. Dengan puncaknya berada di Gunung Gamping.
Selain bekakak, ritul juga menggunakan sumber mata air. Tepatnya dari Tirta Donojati dan Tirta Mayangsari. Untuk kemudian diarak bersamaan dengan dua pasang bekakak.
"Pembuatannya sejak Kamis untuk bekakak dan pengambilan air suci juga Kamis. Lalu semayamkan di Balai Kalurahan Ambarketawang," katanya. (dwi) Editor : Editor News