Rombongan warga luar dusun ini hanya datang untuk melihat fenomena ini dari gardu pandang Tunggularum.
Dukuh Tunggul Arum Kristanto terpaksa mengambil langkah tegas ini. Pertimbangan utama adalah peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi. Selain itu juga meminimalisir sebaran kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di desanya.
"Mulai ramai biasanya jam 6 sore. Sejak kemunculan lava pijar mulai ramai. Guguran lava pijar jadi daya tarik warga luar. Penasaran melihat secara dekat. Jadi datang hanya nonton kemudian foto-foto saja," jelasnya ditemui di Ruang Lindung Darurat Tunggul Arum, Jumat (8/1).
Kristanto tak menampik kedatangan warga luar dusun justru menjadi beban. Baik untuk antisipasi dan mitigasi erupsi Merapi maupun pencegahan penularan Covid-19. Sehingga dia bersama warga sepakat untuk menutup portal pintu masuk.
Kristanto menjelaskan,portal dusun berada tepat di sisi bawah gardu pandang Tunggul Arum. Penutupan berlaku efektif sejak pukul 18.00 setiap harinya. Warga juga turut berjaga agar tak ada yang mencuri kesempatan untuk masuk ke perkampungan.
"Biar nanti saat terjadi erupsi jalur evakuasi bisa lancar. Kami juga khawatir karena warga dari luar belum tahu medan disini. Padahal ini masuk wilayah kawasan rawan bencana (KRB)," katanya.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan menyambut positif inisiatif warga Tunggul Arum. Menurutnya langkah ini setidaknya mampu mendukung pelaksanaan mitigasi Merapi lebih optimal. Sehingga proses evakuasi kepada warga menjadi lebih terfokus.
Menurutnya kondisi Merapi saat ini tergolong rawan. Dalam artian potensi erupsi bisa terjadi sewaktu-waktu. Disatu sisi mitigasi telah disiapkan dengan skenario evakuasi warga. Skema ini tentu akan berubah jika ada kunjungan warga dari luar dusun Tunggul Arum.
"Kami mendukung (penutupan portal). Tunggul Arum ini jaraknya 7,5 kilometer dari puncak jadi potensi bahaya cukup tinggi. Disatu sisi kami juga mendukung penutupan kaitannya dengan kasus covid yang cukup tinggi," ujarnya.(dwi/sky) Editor : Editor News