JOGJA - Gelaran pameran akhir tahun yang menceritakan perjalanan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII yang digelar oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat sampai pada puncaknya.
Pameran bertajuk Pangastho Aji, Laku Sultan Kedelapan secara resmi dinyatakan ditutup pada Sabtu (24/1) di KgD Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Diketahui, pemeran yang digelar di Kompleks Kedhaton Keraton Yogyakarta, sejak tanggal 26 September 2025 menyoroti Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, yang lahir dengan nama kecil GRM Sujadi pada 3 Maret 1880 silam.
Saat itu HB VIII naik tahta pada 8 Februari 1921 dan dikenal sebagai raja yang sangat berorientasi pada pemajuan dan demokratisasi kebudayaan.
Dalam penutupan kali ini, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menyuguhkan dua pertunjukan tari wayang wong kepada para pengunjung.
Kedua tari tersebut berjudul Beksan Pethilan Gatotkaca Setija dan Bedhaya Bontit.
Tarian Beksan Gathutkaca Setija menggambarkan peperangan Prabu Setija raja di Trajutresna melawan Raden Gathutkaca, satriya pringgondani.
Dalam cerita itu, Prabu Setija ingin menguasai Kikis Tunggarana yang telah menjadi wilayah pringgondani.
Gathutkaca yang tidak terima wilayahnya dikuasai Setija maka terjadilah peperangan. Akhirnya Prabu Setija meninggalkan peperangan.
Sementara, Bedhaya Bontit merupakan Yasan Dalem (karya) Sultan Hamengkubuwono VIII.
Tarian ini mengambil cerita epos Mahabharata dan menggambarkan peperangan antara Raden Permadi dengan Raden Suryatmaja di Pura Mandaraka, yang berusaha untuk mendapatkan Dewi Surtikanthi.
Dalam peperangannya, kedua prajurit tersebut memiliki kekuatan yang sama, sampai keduanya kehabisan akal dan tidak ada jalan keluarnya. Tidak ada yang menang dan kalah. Sehingga keduanya tampak bersatu menjadi loro-loroning atunggal.
Bedhaya Bontit kali ini, ditarikan oleh sembilan paraga dengan pola lantai yang cukup unik. Ketika para penari membuat pola lantai tiga-tiga, mereka bergeser ke kanan secara bersamaan dengan gerak kengser.
Kemudian kembali lagi ke posisi awal secara bersamaan juga.
Hal ini sangat jarang ditemui dalam bedhaya lainnya dan hanya ada dalam Bedhaya Sinom yang menggunakan pola yang sama.
Dalam pentas kali ini, bagian peperangan ini pula ditemukan hal yang cukup menarik, yakni gendhing yang digunakan adalah Gendhing Ketawang. Jarang pula ditemukan gendhing Ketawang digunakan dalam adegan peperangan untuk sebuah tarian bedhaya.
Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat GKR Bendara mengatakan, berkaca pada kegelisahan di masyarakat, Keraton Yogyakarta terus berupaya untuk menghadirkan pameran melalui pendekatan positivisme sejarah dengan tujuan memenuhi dahaga pengetahuan secara berkelanjutan.
Maka di penghujung tahun 2025 lalu, tema Sri Sultan Hamengkubuwono VIII menjadi topik dari pameran temporer.
Mengingat dalam cerita sejarah, termasuk pada sumber lisan, disebutkan bahwa GPH Purboyo dianugerahi gelar Hamengkunegoro IV setelah ketiga saudara laki-lakinya tidak berhasil untuk dinobatkan.
Penobatannya sebagai Sri Sultan Hamengkubuwono VIII pun diwarnai dengan peristiwa politik yang begitu kental.
Meskipun demikian, masa pemerintahannya dipenuhi dengan berbagai pembaharuan di bidang sosial, ekonomi, hingga seni pertunjukan.
Tak hanya itu, pada masa pemerintahan yang bersamaan, praktik perwujudan budaya visual masif terjadi.
Perubahan kentara terlihat pada ornamen-ornamen bangunan Keraton yang begitu megah setelah dipugar. Penanda kekuasaan dalam sengkalan dengan begitu nyata tampak pada sudut-sudut bangunan.
Sedangkan, dalam seni pertunjukan, upaya untuk mewujudkan karakter dari setiap penari Wayang Wong dengan serius dikerjakan.
"Lebih dari 260 ribu pengunjung yang hadir di pameran ini," katanya dalam penutupan.
Dengan adanya tari wayang wong yang berjudul Beksan Pethilan Gatotkaca Setija dan Bedhaya Bontit. Pameran Pangastho Aji resmi ditutup. (ayu)
Editor : Bahana.