MUNGKID - Puluhan pelajar, mahasiswa, hingga perajin batik memenuhi pelataran Candi Borobudur, Kamis (11/12). Mereka mengikuti lomba mencanting batik yang digelar sebagai bagian dari upaya pelestarian wastra nusantara. Kegiatan ini menjadi ruang untuk belajar, mengasah keterampilan, sekaligus menjaga kesinambungan tradisi membatik.
Salah satu peserta, Rofifah Ummu Karomah, siswi SMK Negeri 3 Magelang, mengaku pengalaman ini menjadi kali pertama ia memegang canting. "Awalnya bingung, tapi di sini banyak perajin yang mau membimbing. Rasanya senang sekali bisa belajar langsung," lontarnya.
Rofifah mengatakan, dirinya baru memahami bahwa batik, terutama di kawasan Borobudur, banyak mengangkat unsur sejarah dan peninggalan candi. "Ini kesempatan mencoba hal baru. Ternyata batik itu tidak hanya indah, tapi penuh cerita," imbuhnya.
Ketua panitia lomba mencanting, Nuryanto menjelaskan, selain proses kreatif, peserta juga diperkenalkan pada filosofi motif batik yang banyak bersumber dari nilai-nilai budaya Jawa.
Nuryanto mencontohkan, batik Taruntum, Lung-lungan, Cecek Telu, dan motif tradisi lain yang sarat makna tentang perjalanan hidup, keteguhan, dan harmoni.
"Batik bukan sekadar gambar. Ada konsep cipta, rasa, karsa, ada unsur asah, asih, asuh. Itu diwariskan dalam titik-titik canting yang tampak kecil, tetapi memuat nilai besar," katanya.
Ketua Klaster Batik Magelang Hayatini Siswi Ningrum menyampaikan, perajin tidak hanya mengikuti kategori mencanting, tetapi juga lomba batik cap dan batik tulis.
Ada puluhan peserta yang mengikuti kompetisi ini, terdiri dari pelajar berbagai jenjang, mahasiswa, serta para perajin batik. "Tujuannya agar kemampuan perajin lokal, termasuk yang memakai teknik cap, bisa bersaing dengan industri besar," jelasnya.
Dia menuturkan, klaster batik Magelang saat ini menaungi sekitar 40 pembatik rumahan, masing-masing dengan pegawai atau pembantu produksi sendiri. Menurutnya, kegiatan semacam ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan ekonomi para pelaku batik di tingkat UMKM.
"Harapannya tahun depan bisa naik level ke acara nasional. Ini upaya meningkatkan kesejahteraan pembatik di Kabupaten Magelang," tambahnya.
Kepala Disperinaker Kabupaten Magelang Siti Zumaroh menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam acara ini. Menurut dia, batik mengandung kekayaan motif dan teknik yang mencerminkan identitas lokal sekaligus nilai sejarah.
"Batik adalah sejarah yang terukir, doa yang tertuang, dan identitas yang melekat pada setiap jengkal kain," paparnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo