JOGJA - Pelaksanaan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Keraton Yogyakarta atau Hajad Dalem Sekaten Tahun Dal 1959 tahun ini cukup spesial. Terdapat peristiwa langka yang hanya dilakukan sewindu atau delapan tahun sekali, yakni adanya prosesi Jejak Banon yang dilakukan oleh Raja Keraton Ngayogyakarta Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10.
Sejak pukul 19.00 Bregada Prajurit Keraton Jogja berduyun-duyun memasuki halaman Masjid Gedhe Mataram, Kauman, Jogja. Dengan diiringi musik dari terompet dan instrumen bregada lainnya, mereka kemudian berbaris hingga membentuk jalan yang digunakan sebagi jalan Sultan dan kerabatnya masuk dan melakukan prosesi udik-udik.
"Malam ini adalah hari terakhir sekaten. Adapun rangkaian sekaten sudah dimulai pada tanggal 29 Agustus, dan akan berakhir pada 5 September," ujar Koordinator Rangakaian Prosesi Garebeg Mudul Dal 1959 KRT Kusumanegara saat ditemui di Kompleks Masjid Gedhe Kauman, Jogja, Kamis (4/9).
Tak berselang lama, Gamelan Sekati Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yakni Gamelan Kyai Guntur Madu yang diletakkan di Pagongan Kidul dan Gamelan Kyai Nogo Wilogo di Pagongan Lor Masjid Gedhe Kauman mulai ditabuh lirih, perlahan.
Pukul 20.10 rombongan keluarga Keraton Jogja mulai tiba. Terlihat Sultan menggunakan surjan dominan biru dengan corak bunga, lengkap dengan jarik motif parang besar yang dalam pranatan di Keraton hanya boleh dipakai oleh Raja. Sultan diiringi oleh putrinya, diantaranya terlihat GKR Mangkubumi dan GKR Bendara dengan memakai kebaya warna biru, senada dengan warna pakaian ayahnya. Beberapa menantu Sultan juga ikut dalam prosesi tersebut.
"Ngarsa Dalem atau Kangjeng Sinuwun beserta keluarga, putra, mantu, hadir di Masjid Gede untuk mendengarkan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW," katanya.
Setelah tiba, rombongan Keraton Jogja langsung memulai prosesi udhik-udhik. Pagongan Kidul, tempat Gamelan Kyai Guntur Madu menjadi tempat pertama prosesi udhik-udhik. Sebab, sesuai adat, Gamelan Kyai Guntur Madu dari segi usia lebih tua dibandingkan Gamelan Kyai Nogo Wilogo.
Baca Juga: Ratusan Warga Magelang Terima Bantuan Rp 251 Juta untuk Pendidikan dan Kesehatan
Udhik-udhik pertama kali disebar di dalam ruang gamelan. Ditujukan pada pengarawit dan abdi dalem di sana. Selanjutnya oleh Sultan, udhik-udhik disebar ke arah masyarakat. Mereka berebut untuk mendapatkan koin yang dibalur dengan beras kuning tersebut. Setelah di Pagongan Kidul, terakhir udhik-udhik disebar di Pagongan Lor sebelum Sultan masuk ke Masjid Gedhe Kauman untuk mendengarkan pembacaan Riwayat Nabi.
"Pembacaan riwayat Nabi oleh Penghulu Keraton, nanti tentang riwayat Nabi Muhammad dari lahir hingga beliau wafat," ucapnya.
Setelah prosesi di dalam selesai, Sultan dan keluarganya kemudian pergi meninggalkan Masjid Gedhe Kauman. Tidak seperti tahun sebelumnya, Sultan keluar melalui pintu kecil di sebelah selatan yang telah ditutupi dengan batu bata. Untuk keluar, Sultan pun harus merobohkan batu bata tersebut. Prosesi itulah yang dinamakan Jejak Banon.
"Ini hanya diselenggarakan pada saat Garebeg Mulud tahun Dal saja yang jatuh delapan tahun sekali," jelasnya.
Menurutnya, Jejak Banon atau Jejak Benteng yang dilakukan Sultan mempunyai makna atau filosofi yang mendalam. Secara simbolis, prosesi tersebut sebagai tanda kelahiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
"Budaya Jawa atau Budaya Islam ini mendobrak tatanan-tatanan lama kaitannya dengan agama. Agama baru di tanah Jawa pada saat itu, ini maka gambarannya adalah seperti itu," paparnya.
Baca Juga: Dagadu Hadir di Kampus UBSI, Mahasiswa Dilibatkan dalam Produksi hingga Pemasaran
Dikatakan, tahun Dal dalam penanggalan Jawa juga bertepatan dengan tahun lahir Nabi Muhammad SAW. Secara simbolis, robohnya tatanan batu bata tersebut membuka cakrawala baru bagi masyarakat Jawa khususnya terhadap wawasan agama Islam.
Setelah tembok batu bata dirobohkan, masyarakat dan juga abdi dalem berebut pecahan batu bata tersebut. Bagi sebagian orang, benda tersebut dinilai berharga. Baik sebagai kenang-kenangan ataupun sebagai benda yang memiliki makna mendalam.
Baca Juga: Brajamusti dan The Maident Ajak Rayakan HUT ke-96 PSIM Jogja dengan Sederhana dan Bermakna
Salah seorang warga asal Demangan, Jogja Atus mengatakan beruntung mendapatkan beberapa pecahan batu bata. Sejak sore ia niatkan datang di acara tersebut agar bisa mendapatkan pecahan batu bata dalam prosesi Jejak Banon.
"Setengah enam mulai masuk, saya ikhtiar untuk dapat ini, bertepatan dengan Jumat Kliwon juga," ujarnya.
Ia mendapatkan empat pecahan batu bata. Rencananya, batu tersebut akan diberikan kepada dua anaknya yang telah beranjak dewasa dan sudah mempunyai pekerjaan.
"Karena ini kan sewindu sekali, tidak setiap tahun. Ini untuk memotivasi mereka (anak-anak) agar dilancarkan dalam menabung dan mendirikan rumah," jelasnya. (oso)
Editor : Heru Pratomo