Sebelum prosesi cukur rambut dimulai, delapan anak berambut gimbal terlebih dahulu diarak keliling desa dengan andong. Kirab dimulai dari kediaman tetua adat sekitar pukul 08.00 WIB dan berakhir di Candi Arjuna sebagai lokasi prosesi.
Prosesi itu menandai berakhirnya Dieng Culture Festival (DCF) 2025. Meskipun menjadi acara penutup ritual tersebut, justru menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Terbukti dari ribuan orang yang memadati area prosesi pencukuran rambut gimbal.
Rahayu wisatawan asal Jakarta, mengungkapkan bahwa meski sudah beberapa kali berkunjung ke Dieng. Ini adalah pengalaman pertamanya menyaksikan secara langsung ritual cukur rambut gimbal anak bajang.
“Sudah sering dengar, tetapi baru kali ini lihat langsung. Terharu dan takjub kenapa rambutnya bisa begitu. Tadi juga bertanya-tanya, apakah tidak bisa dikeramasi atau dilurusin saja atau bagaimana, ternyata memang itu tumbuh lagi.” ungkap Rahayu saat ditemui setelah prosesi berlangsung.
Rahayu yang datang bersama teman-temannya menilai rangkaian Dieng Culture Festival 2025 sudah sangat baik, hingga bahkan mampu menghadirkan wisatawan dari berbagai daerah.
Menurutnya, daya tarik festival tidak hanya terletak pada keindahan alam Dieng, tetapi juga pada kekayaan budaya yang ditampilkan, sehingga tak heran setiap tahun acara ini selalu ramai pengunjung.
Wisatawan asal Jakarta lainnya, Suci juga turut menyampaikan bahwa DCF dianggap berhasil menyajikan upacara tradisi dalam bentuk acara yang utuh, sekaligus menghibur dan memberikan sebuah edukasi.
“Belum pernah ketemu yang seperti itu. Untuk acara adat sih bagus banget ya. Memang anak-anak itu punya kelebihan, kan tidak semua dapat kayak gitu (rambut gimbal). Jadi perlu dilestarikan. Takjub banget lihat rambut gimbal.” kata Suci.
Selain itu Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) turut menghadiri dan mengikuti prosesi tradisi cukur rambut gimbal anak bajang dalam rangkaian Dieng Culture Festival 2025 ini.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Luthfi bersama dengan AHY diminta secara khusus oleh seorang anak bernama Faiza Ahmad Al-Afghani yang berusia 7 tahun asal Kulon Progo, DIY untuk memotong rambut gimbalnya.
Permintaan mereka pun beragam,mulai dari mainan mobil - mobilan, sepeda, hingga lain sebagainya.
AHY mengungkapkan bahwa prosesi cukur rambut gimbal kali ini menjadi pengalaman pertamanya. Menurutnya tradisi itu mengandung kekayaan nilai budaya nusantara.
Ia berharap tradisi tersebut terus dijaga kelestariannya, karena prosesi pemotongan rambut gimbal diyakini sebagai simbol doa dan pengawalan agar anak - anak tumbuh menjadi seorang remaja hingga menuju ke dewasa yang lebih baik.
“Ini sebuah makna bahwa semakin kita mengawal putra putri kita, harapannya bisa semakin memiliki karakter yang baik, kepribadian yang baik, nilai-nilai religius, juga cinta pada negaranya.” kata Agus Harimurti Yudhoyono tersebut.
AHY juga mengaku terkesan dengan Simphony Dieng yang digelar di Lapangan Pandawa pada Sabtu (23/8/2025) malam, dimana ribuan penonton baik wisatawan domestik maupun mancanegara menikmati pertunjukan musik di tengah suasana alam Dieng yang indah dan sejuk.
“Kita harapkan semakin maju pariwisatanya dan budayanya.” tambahnya.
Sementara itu Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menegaskan bahwa tradisi ruwatan potong rambut gimbal perlu terus dijaga kelestariannya.
Bahkan ia mendorong agar ritual ini dapat diperkenalkan lebih luas hingga ke kancah internasional.
“Tradisi ini akan kita perbesar, biar turis mancanegara melihat, sehingga turisnya banyak. Sudah pas kalau saya dan Menko (Bidang IKP) datang ke sini untuk membesarkan acara prosesi potong rambut gimbal ini menjadi destinasi wisata Internasional.” ujar Ahmad Luthfi.
Penulis : Putri Endina Eka Cahyani
Sumber/Melansir dari : Diolah dari laman resmi jatengprov.go.id
Editor : Bahana.