RADAR JOGJA - Di tengah derasnya arus modernisasi, budaya lokal terus ditantang untuk bertahan.
Namun di sudut-sudut Jawa Barat, dua warisan budaya masih bertahan sebagai cermin kekayaan spiritual dan musikal masyarakat Sunda.
Seperti permainan Badomba dan alat musik Gembyung.
Keduanya tak sekadar simbol masa lalu, melainkan bagian dari identitas lokal yang mengandung nilai edukatif, estetis, dan spiritual yang mendalam.
Badomba adalah permainan tradisional yang berkembang di wilayah pedalaman Sunda seperti Garut dan Tasikmalaya.
Permainan ini melibatkan boneka kecil dari kayu atau bambu, yang disebut “domba” (bukan merujuk pada hewan), dan dimainkan pada malam hari oleh kelompok anak atau remaja.
Yang membedakan Badomba dari permainan biasa adalah unsur spiritual yang menyertainya.
Dengan membaca mantra dalam bahasa Sunda kuno, para pemain percaya bahwa roh halus dapat “masuk” ke dalam boneka dan memberikan respon, menjadikannya semacam media komunikasi dengan dunia tak kasatmata.
Fenomena ini kerap disandingkan dengan tradisi jelangkung, namun memiliki ciri khas Sunda yang lebih kental dan bersifat lokalistik.
Bagi sebagian kalangan, Badomba kini dianggap bagian dari cerita rakyat.
Namun, masyarakat adat dan sesepuh desa masih memaknainya sebagai sarana menjaga hubungan spiritual dengan leluhur.
Sementara itu, Gembyung adalah alat musik pukul tradisional yang berasal dari daerah Subang, Indramayu, dan Cirebon.
Terbuat dari kayu bulat dengan satu sisi ditutup kulit sapi atau kerbau, alat ini menghasilkan suara dentum yang khas dan bergetar dalam ritme yang membangkitkan suasana khidmat.
Gembyung lazim dimainkan dalam upacara keagamaan seperti dzikir, mapag Sri (ritual menyambut panen), atau hajat bumi.
Suara yang dihasilkannya dipercaya mampu membawa ketenangan, bahkan menghadirkan suasana transendental di tengah masyarakat.
Dalam konteks sejarah, Gembyung mencerminkan akulturasi budaya antara kepercayaan lokal dan nilai-nilai Islam.
Instrumen ini adalah bukti bagaimana kesenian bisa menjadi jembatan harmoni antara tradisi dan agama.
Kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya lokal semakin meningkat.
Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Barat telah mendaftarkan Gembyung sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Sedangkan Badomba kini tengah dalam proses pengkajian sebagai bentuk pengakuan terhadap nilai tradisi dan sejarahnya.
Menurut antropolog Universitas Padjadjaran, Dr. R. Andri Setiawan, “Badomba dan Gembyung bukan sekadar hiburan masa lalu, tetapi jendela untuk memahami kosmologi dan estetika masyarakat Sunda. Keduanya punya nilai edukatif dan filosofis tinggi.”
Melestarikan budaya seperti Badomba dan Gembyung bukan hanya tentang mempertahankan tradisi, tetapi juga menjaga jati diri bangsa.
Di balik dentuman Gembyung dan boneka Badomba, tersimpan pesan tentang kearifan lokal, kedekatan manusia dengan alam, serta penghormatan terhadap leluhur.
Kini saatnya masyarakat terutama generasi muda menjadikan budaya lokal bukan sebagai peninggalan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Jika Anda ingin mengenal lebih jauh atau menyaksikan langsung pertunjukannya, banyak komunitas seni di Jawa Barat yang rutin mengadakan festival budaya dan Badomba serta Gembyung masih hidup dalam denyut nadi mereka.
Budaya adalah identitas. Mari jaga, pelajari, dan lestarikan. (Tri Advent Sipangkar)
Editor : Meitika Candra Lantiva