Gatra Akyati, Cara Merawat Kekerabatan Alumni ISI Yogyakarta 1993 lewat Pameran Seni
Naila Nihayah• Senin, 3 Februari 2025 | 14:25 WIB
ARTISTIK: Pameran seni rupa di Limanjawi Art House Borobudur bertajuk Gatra Akyati ini diikuti oleh 16 seniman dari berbagai daerah di Indonesia.
MUNGKID - Selama ini, banyak alumni dari sekolah maupun perguruan tinggi yang kerap melupakan teman seperjuangannya. Namun ternyata, masih ada alumni yang kompak, entah sekadar bertukar sapa atau bahkan menghelat kegiatan bersama. Satu di antaranya adalah alumni ISI Yogyakarta angkatan 1993. Tempat tinggal yang berjauhan tidak menghalangi niat mereka untuk tetap eksis dengan karya seninya.
Lukisan-lukisan tersebut memenuhi ruang kosong. Menciptakan perpaduan karya seni yang unik dengan gaya lukis masing-masing seniman. Lukisan itu rerata merupakan karya terbaru. Ada yang dilukis pada 2024, ada pula di 2025 ini. Selain lukisan, ada satu karya yang menarik mata pengunjung. Ialah karya bertajuk Semilyar Hikmah dari Nyamuk.
Karya itu berdiri gagah di tengah ruangan. Semua mata pasti akan tertuju ke sana setelah sempurna memasuki ruangan. Buah tangan milik Stefan Buana dan tim bernama Barak --Antok Fiber dan Ahmed Zafli itu menggunakan media yang beragam. Dua di antaranya menggunakan iron atau campuran besi serta resin. Karya itu cukup besar karena berukuran 2,5 x 2,5 x 3 meter.
Ketua panitia pameran Agni Tripratiwi mengutarakan, pameran kedelapan bertajuk Gatra Akyati ini diikuti 16 seniman dari berbagai daerah. Setelah bosan menghelat pameran di Yogyakarta, mereka ingin merasakan suasana dan sensasi baru untuk memamerkan karyanya. Dipilihlah Magelang sebagai lokasi pameran, mulai 2-18 Februari 2025.
Dia bercerita, Prasidha 93 sebetulnya beranggotakan lebih dari 16 orang. Hanya saja, tidak seluruhnya berpartisipasi pada pameran kali ini. Sebab anggota Prasidha 93 tidak hanya seniman saja, melainkan dari berbagai latar belakang profesi yang berbeda. "Ada yang jadi guru, dosen, pengusaha, dan lainnya. Saya sendiri di Malang sedang merintis usaha sulam," lontarnya, Minggu (2/2).
Dia menyebut, pameran pertama digagas pada 1994 silam di Bentara Budaya Yogyakarta. Kala itu, mereka belum mendapat mata kuliah seni lukis. Hanya membuat sketsa dan mata kuliah dasar. Namun, dengan kegigihan dan semangatnya, mereka ingin mengadakan pameran. Meski kemampuan lukisnya belum bisa dibilang jago. Karena mereka ingin unjuk gigi agar lebih dikenal.
Pameran perdana itu, lanjut Agni, menjadi prestasi membanggakan yang telah ditorehkan oleh teman seangkatannya. Terlebih, Agni belum begitu familier dengan seni lukis. Kendati demikian, semangatnya semakin tumbuh dan bertekad ingin serius di bidang tersebut. Sejak saat itulah, dia bersama teman seangkatannya terus menghelat pameran seni.
Meski sibuk dengan profesinya masing-masing, tapi mereka tetap meluangkan waktu untuk berkesenian. Karena menurutnya, tidak mudah menorehkan nama di dunia kesenian. "Kalau pameran ini, kira-kira ada 35 karya. Satu orang, ada yang ngirim satu, dua, bahkan tiga (karya). Rata-rata (karya) baru, mulai 2024 sampai 2025 ini," bebernya.
Salah satu karyanya adalah bertajuk Pride yang dibuat pada 2025. Lewat karyanya, dia ingin mengulas soal kebaya. Pemilihan karya lukis itu selaras dengan teknik yang selama ini dilakoni, yakni mixed media. Karena sejak beberapa tahun lalu, dia telah memantapkan diri untuk memanfaatkan kain perca, kertas, tisu, benang, atau sesuatu yang sudah tidak terpakai di rumah.
Lukisan tersebut menggambarkan kebaya yang notabene merupakan pakaian yang rapi dan bagus. Serta menggambarkan sosok perempuan Indonesia yang halus dalam sikap, tutur kata, dan hal lain. Tapi, di balik itu, perempuan mempunyai kekuatan dan daya juang yang bisa saja lebih dari laki-laki.
Benang yang ditempel dan dijahit dengan kanvas itu menggambarkan bahwa jalan seseorang tidak harus selalu mulus. Terkadang ada sedih, susah, maupun bahagia. "Meskipun di balik itu ada harapan. Kayak jendela dan warna yang saya pilih itu cerah biar kelihatan, ini lho semangat para perempuan," ucapnya.
Sementara itu, kurator pameran Suwarno Wisetrotomo menuturkan, pameran yang dihelat Prasidha 93 sangat menarik karena mengatasnamakan angkatan semasa kuliah. "Merawat kelompok angkatan itu tidak mudah. Apalagi mereka tinggalnya tidak dalam satu kota," paparnya.
Dia melihat, pameran ini menjadi satu upaya untuk meletakkan seni sebagai bagian dari media cara agar tetap merawat silaturahmi dan kekerabatan. Bicara soal karya seninya, dia menyebut, sangat variatif. Karena anggota Prasidha 93 tidak memanggul satu visi untuk menyuarakan satu ideologi maupun politik tertentu.
Tanpa ideologi, kata dia, para anggota Prasidha 93 praktis tidak dibebani untuk menggarap satu tema tertentu. Pun tidak terbebani untuk membuat karya dengan pesan tertentu. Sebab pameran ini justru menyuarakan masing-masing individu. Termasuk cara mereka untuk menyampaikan ide dan gagasannya lewat karya seni.
Suwarno pun kagum dengan semangat para anggota yang masih dipupuk hingga saat ini. Menurutnya, mahasiswa baru yang membuat kelompok kesenian itu merupakan kegilaan yang luar biasa. "Tapi, spirit itu yang justru saya lihat itu terawat sampai hari ini. Kemajuan seni itu dibangun karena saling mengkritisi, saling meledek, kultur kritik itu yang harus dibangun justru oleh mereka," urainya.