RADAR JOGJA - Selain Sekaten dan Grebeg, Daerah Istimewa Yogyakarta juga mempunyai banyak sekali budaya dan tradisi, salah satunya adalah tradisi Saparan Bekakak yang jarang diketahui oleh masyarakat luas.
Tradisi ini dilaksanakan setiap bulan Safar di hari jum’at dalam penanggalan Jawa.
Tradisi Saparan Bekakak menjadi bentuk penghormatan, tolak bala, serta memohon keselamatan.
Saparan Bekakak disebut juga Saparan Gamping.
Saparan Bekakak berpusat di Dusun Ambarketawang, Gamping.
Bekakak artinya adalah korban yang disembelih seperti hewan atau manusia.
Namun, Bekakak pada tradisi saparan ini hanya tiruan manusia yang berbentuk boneka sepasang pengantin yang melambangkan Kiai Wirosuto dan Nyai Wirosuto.
Boneka tersebut terbuat dari tepung ketan dan gula merah yang diuleni.
Boneka pengantin ini juga didandani lengkap menggunakan adat pengantin Jawa Yogyakarta dan Solo.
Prosesi tradisi ini mempunyai beberapa tahap, yaitu:
1. Midodareni Bekakak
Prosesi ini dilaksanakan pada kamis malam. Sepasang pengantin, sesaji, serta sepasang genderuwo dan wewe diberangkatan ke Balai Kalurahan Ambarketawang.
Prosesi ini biasanya juga diikuti pagelaran wayang kulit.
2. Kirab Budaya
Prosesi ini dilaksanakan dihari jum’at setelah dzuhur yang diikuti oleh beberapa rombongan, diantaranya yaitu Bregodo, Bekakak, Genderuwo, Gunungan sayur dan buah, warok, serta kesenian tradisional lain seperti jathilan, reog, atau ogoh-ogoh.
3. Penyembelihan Bekakak
Prosesi ini dilaksanakan di Gunung Ambarketawang atau di Altar Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Gamping, kemudian boneka tersebut dido’akan.
Setelah dido’akan, bakakak disembelih dan dipotong-potong kemudian dibagikan kepada pengunjung.
4. Sugengan Ageng
Prosesi ini yakni terdiri dari pembakaran kemenyan, pembacaan do’a, dan diakhiri dengan melepaskan sepasang burung merpati putih serta dibarengi dengan pembagian sesaji yang lain seperti gunungan buah dan sayur.
Itulah penjelasan singkat mengenai tradisi Sarapan Bekakak.
Dengan adanya tradisi ini, tidak hanya sebagai bentuk melestarikan warisan budaya leluhur saja, melainkan memperkuat rasa kebersamaan.
Diharapkan tradisi ini dapat dilestarikan, dijaga, dan dikenal masyarakat luas, serta menjadi bentuk kebanggan akan kekayaan budaya Yogyakarta yang unik dan sarat makna. (Isti Nurul Hidayah)