Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Di Balik Alunan Merdu Gamelan Jawa, Ternyata Menyimpan Filosofi kehidupan yang Mendalam, Mari Simak!

Meitika Candra Lantiva • Selasa, 17 September 2024 | 18:55 WIB
Menabuh gamelan.
Menabuh gamelan.

RADAR JOGJA - Indonesia adalah negara kepulauan dengan beragam suku di dalamnya.

Tiap suku pastinya memiliki adat dan kebudayaan masing-masing di daerahnya.

Terutama suku Jawa, suku jawa sendiri mempunyai beragam budaya, seperti tarian, tata krama (sopan santun), alat musik tradisional, dan lain sebagainya.

Salah satu alat musik yang sampai saat ini masih populer dan sering dimainkan adalah gamelan.

Mulai dari ekstrakurikuler di sekolah, perlombaan, hingga untuk memperingati hari besar kalender Islam, gamelan Jawa masih sering dimainkan sebagai media pelestarian budaya daerah.

Sebenarnya gamelan sendiri tidak hanya milik jawa saja, namun masih ada Gamelan Sunda dan Gamelan Bali.

Masing-masing gamelan memiliki ciri khas yang membedakan satu dengan lainnya.

Gamelan Jawa umumnya bersuara dan selalu dimainkan dengan lembut, Gamelan Bali cenderung lebih nyaring, sedangkan Gamelan Sunda memiliki ciri khas dengan seruling, sudan, serta rebabnya sebagai pembeda dengan gamelan daerah lain.

Mulanya gamelan berasal dari Bahasa jawa “gamel” yang memiliki arti memukul atau menabuh, yang diberi akhiran “an” sebagai kata benda, yang berarti menabuh sesuatu benda.

Filosofi dalam kata G-A-M-E-L-A-N , memiliki arti sebagai G (Gusti) A (Allah) M (Maringi, memberi) E (Emut,ingat) L (Lakonono) A (Ajaran) N (Nabi).

Gamelan Jawa sendiri memiliki beragam instrumen, masing-masingnya memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan kehidupan.

Baca Juga: Misteri Ketindihan Saat Tidur: Fenomena ‘Diginton lé Beunô’ dan Sosok Menakutkan di Baliknya

Nah, instrumennya antara lain berikut ini :

Kendhang

Kendhang memiliki filosofi dari Bahasa Jawa dari kata “ndang” yang berarti segera, artinya adalah agar kita harus bersegera ketika akan beribadah kepada Sang Maha Pencipta, bukan saat sedang beribadahnya yah.

Lalu arti lainnya adalah seorang manusia harus senantiasa segera melakukan aktivitas setelah bangun di pagi hari, dengan begitu rejeki yang dicari akan mudah datang kepadanya.

Bonang Barung dan Bonang Penerus

Ketika sedang dimainkan bonang berbunyi “nang”, bunyi itu berarti manusia setelah lahir dapat berpikir jernih, sehingga keputusan yang diambil penuh akan kesadaran.

Saron

Instrumen Saron terbuat dari bahan besi yang bentuknya seperti lesung kecil.

Asalnya dari Bahasa Jawa “sero” yang berarti keras, saron ini memberi ajaran kepada manusia agar senantiasa lantang dalam menyuarakan kebenaran dan keadilan.


Gender

Kata Gender asalnya dari “gendera” atau bendera sebagai simbol permulaan.

Sebagai permulaan gending ataupun sebagai permulaan sebuah kehidupan.

Gambang

Gambang memiliki arti keseimbangan dan kejelasan, hal ini menunjukkan bahwa menjadi manusia harus ada keseimbangan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, manusia harus senantiasa jelas tentang apa yang ingin dilakukan dan menjaga keseimbangan lahir dan batin.

Suling

Memiliki asal kata “ling” eling, yang artinya ingat, maksudnya adalah agar kita selaku manusia harus mengingat akan kewajiban.

Suling ini terbuat dari bamboo dan biasanya dimainkan dengan ditiup.

Siter

Dimainkan dengan cara dipetik, asal katanya dari “siteran”, makna filosofinya adalah manusia harus mampu membimbing dan membina orang lain pada suatu tujuan yang baik.

Rebab

Rebab dibunyikan saat Gender sedang tidak ada. Gender memiliki makna filosofi bahwa manusia dalam melakukan sesuatu harus memiliki tujuan yang jelas dan pasti.

Sehingga tindakan yang telah dilakukannya tidak menyimpang dari apa yang dikehendaki.

Kethuk

Saat Kethuk ditabuh, maka akan keluar bunyi “thuk”, artinya mathuk atau setuju, maksudnya yaitu manusia sepatutnya harus setuju dengan segala perintah dan larangan Sang Maha pencipta.

Kempul

Diambil dari kata “kumpul”, artinya adalah ajakan untuk berjamaah dalam beribadah, berkumpul dengan manusia lain, tidak boleh egois. Instrumen ini lebih mirip Gong namun berukuran lebih kecil.

Gong

Instrumen ini memiliki ukuran besar, hal ini menunjukkan bahwa Allah SWT itu Maha Besar/ Maha Agung. Segala sesuatu bisa terjadi bila ada ijin dari Allah SWT.

Itulah tadi filosofi kehidupan yang tersembunyi dibalik indahnya alunan Gamelan Jawa, kadang kita saat mendengar Gamelan Jawa, entah di sekolah, perlombaan, maupun hari peringatan besar islam, cenderung tidak mengetahui tiap makna tersirat di dalamnya.

Nah mungkin artikel ini dapat membantumu untuk terus melestarikan budaya dan dapat memahami makna filosofi yang tersirat di balik alunan lembut nan merdunya yaa.
(Muhammad Affan Himawan)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#gamelan #filosofi #gamelan jawa #instrumen #Kehidupan #alat musik #merdu #makna #Alunan